Writter : sweetchanmies
Cast :
·
Park Chanmi
·
Kang Jun
Summary : Jun, laki-laki yang mencintai seseorang gadis yang terobsesi dengan boneka penangkal hujan,
teru-teru bozu. Gadis itu tidaklah
lain adalah sahabatnya sendiri. Tetapi, pada suatu hari gadis yang Ia cintai
mengidap penyakit Alzhaimer. Apakah
semua berakhir sampai disitu?
Genre : Romance
Description : Fanfic ini terinspirasi dari MV Huh Gak – The
Person who once loved me. Cast adalah milik mereka sendiri. Mohon kritikannya ^
^
----------------------------------------------------------------------------------
#Author Pov
#flashback
“Ini
hanya dongeng,” Anak laki-laki yang berumur 8 tahun ini hampir dibuat pusing
oleh teman sebayanya, Park Chanmi.
“Mengapa kau buat boneka ini banyak
sekali? Hujan tak akan berhenti.”
“stttt, Aku senang sekali
berdarmawisata. Esok akan cerah bila aku memasang ini.” Gadis mungil yang
bernama Chanmi ini terus-terusan membuat gumpalan tisue yang akhirnya di bungkus dengan kain putih lalu diikat dengan
pita.
“Ya, Jun! buatanmu jelek sekali seperti hantu.”
Teru-teru-bōzu, teru bōzu
Ashita tenki ni shite o-kure
Itsuka no yume no sora no yō ni
Haretara kin no suzu ageyo
Teru-teru-bōzu, teru bōzu
Ashita tenki ni shite o-kure
Watashi no negai wo kiita nara
Amai o-sake wo tanto nomasho
Teru-teru-bōzu, teru bōzu
Ashita tenki ni shite o-kure
Sorete mo kumotte naitetara
Sonata no kubi wo chon to kiru
#flashbackend
***
Chanmi
menatap jendela kamar tidurnya dengan penuh harapan, harapan bahwa “Hujan akan
segera berhenti”. Ia memaki-maki dirinya, bagaimana ia bisa lupa memasang Teru-teru bozu kemarin siang. Ia sudah
bersiap-siap untuk pergi ke kedai bersama Jun untuk makan bersama. Chanmi mulai
merogoh kantong celana jeansnya untuk
mengambil ponsel, dengan segera ia mencari kontak bernama ‘Kang Jun’
“Yeoboseo?”
“Ah, Jun-ah. Bagaimana? diluar hujan.”
“Kita pergi lain kali saja.”
“Shiro. aku ingin makan Bibimbap,” Chanmi mulai mengeluarkan raut muka kesal
“Hahaha, Kau ini sudah berusia 19 tahun, bukan 7 tahun
lagi. Baiklah, besok Aku akan menjemputmu, ottoke?”
“Jinjja? Sampai jumpa esok! Aku tidak akan lupa
memasang Teru-teru bozu.”
“Ya, Pabo. Berhentilah percaya dengan mitos.”
Disisi
lain, Jun memaki-maki dirinya sendiri. Bagaimana Ia bisa lupa memasang boneka
penangkal hujan tersebut. Padahal, hari ini Ia akan menyatakan perasaannya
kepada orang yang begitu Ia cintai.
***
Langit benar-benar cerah. Ya, menurut Chanmi ini semua karena ia
memasang teru-teru bozu. Hari ini
gadis itu memakai T-shirt putih polos
dengan celana jeans selutut,
rambutnya dikuncir satu seperti pony yang dihiasi pita berwarna biru-muda
bermotif kotak-kotak. Tetapi, raut mukanya tetap sedih. Ya, hujan memang tidak
turun. Tetapi, kedai tersebut tutup.
“Aish, Kemarin hujan sekarang tutup. Apa aku tidak boleh makan bibimbap?!” gadis itu mendadak menjadi lesu, entah angin
apa ia ingin sekali makan bibimbap.
Jun tertawa melihat tingkah laku gadis disampingnya, Chanmi benar-benar
bertingkah seperti anak kecil bila ia ingin sesuatu. Beberapa saat kemudian,
seseorang Ahjumma membawakan dua jajangmyeon.
Dengan beberapa suapan, semangkuk jajangmyeon
hampir habis oleh Chanmi.
“Hey, kau seperti monster yang belum makan tiga tahun.” Jun
kembali tertawa
“Jangan berlebihan, aku hanya tidak makan dari pagi.” Gadis
itu menatap Jun sebentar dan kembali makan.
Jun membuka ranselnya dan mengeluarkan sebuah kamera berwarna hitam.
“Ya, pabo. Lihat, aku baru membeli kamera,”
“Jinja? Apa ini benar-benar kameramu?” gurau Chanmi.
“Hey jelas ini punyaku, aku bekerja part-time demi membeli ini.”
“Jinja? Woah, dangshineun daedanhaeyo! (you’re amazing),”
“foto aku dengan nae jajangmyeon.” Chanmi tersenyum .
Ia menggerakkan jari telunjuknya kearah bibir manisnya dan mengembungkan kedua
pipi.
“hana, dul, chess”
Jun tertawa kecil melihat hasil potretannya, gaya Chanmi
begitu lucu.
“ya! Mengapa tertawa? Apa aku terlihat jelek? Berikan kamera
itu!” Jun memberikan kamera itu dan
kembali tertawa.
“ani, kawan kecilku begitu cantik.” Jun tersenyum kecil
Chanmi meneruskan makannya, ia tertawa kecil melihat potretan
dirinya tersebut.
“Chanmi..”
“Ne?”
“Aku ingin bicara sesuatu.”
“Mwo? Bicara saja.”
“Aku ….”
Hek, tiba-tiba saja Chanmi tersedak. Ia segera meraih gelas
yang berisi air di sebelah kirinya.
“Pabo, lain kali makannya hati-hati.”
“Oh iya, tadi kau mau bilang apa?”
“ahh.. tidak, apa mau mengambil selca kita?” Jun menggaruk
kepalanya yang tidak gatal, lagi-lagi ia gagal menyatakan perasaan. Ia meraih
kameranya, dan mengubah mode pada kameranya menjadi mode timer.
***
#Chanmi POV
Hari
yang begitu menyenangkan. Aku mulai membuka Diaryku yang selalu kuletakkan
disebelah lampu tidur. Menulis sekian kisah yang kujalani hari ini. Aku adalah
orang yang gemar menulis. Mungkin, menulis Diary menurut sebagian orang adalah
hal yang terlalu kekanak-kanakan. Tapi, Aku tetap memegang perkataan Eomma
bahwa “Tak peduli perkataan orang lain, jalani hidup dengan percaya diri”
#Chanmi pov end
***
#Author POV
“Jun-ah
apa kau lapar?” Mereka tengah menonton di ruang tengah keluarga Jun, ruangan begitu
minimalis yang tersambung dengan dapur tersebut tidak terlalu besar, hanya
dihiasi oleh dua pohon maple kecil
dan aquarium ikan hias.
“Wae?”
“Ani, Aku lupa. Tadi dijalan aku membeli Bungeoppang untukmu.” Chanmi meraih tas putih yang ia
letakkan didekat sofa. Ia mengeluarkan sebungkus Bungeoppang dan membelah bagian kue kacang merah tersebut
menjadi dua bagian. Gadis polos ini memberikan bagian ekor kue tersebut kepada
Jun
“Kau tidak pernah berubah, selalu
memberikan bagian paling kecil dengan ku.” Jun mengacak rambut Chanmi.
“Oh ya. Waktu membeli Bungeoppang,
Aku bertemu dengan Kwon Mina. Apa kau masih mengingatnya?”
“Hmmm,ani . Siapa?” Jun memegangi kepalanya dengan kedua
tangannya, Ia berusaha mengingat siapa gadis yang bernama Kwon Mina tersebut.
“Aigo, berapa umurmu? Dirimu begitu pikun! Hahaha. Ia Hobae
kita saat di Junior High School.”
tawa Chanmi.
“Oh. Gadis yang waktu itu kulempar bola basket?”
“Ne, sepertinya dia sedang sedih.”
Jun tertawa, “Hahaha. Chanmi pabo, sejak kapan menjadi
paranormal?”
“Jun, mari berfoto dengan Bungeoppang kita.” Pinta Chanmi . Jun segera bangkit dari
duduknya ke kamar, Ia mengambil kamera yang baru dibelinya itu. Ya, lebih baik
Jun yang mengambilnya sendiri. Daripada Chanmi harus melihat semua foto-foto
dirinya yang ada di dinding kamar Jun.
Gaya mereka benar-benar lucu. Seusai berfoto
Jun kembali berfikir untuk menyatakan perasaannya kembali.
“Chanmi.”
“wae?”
Jun
menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Ia bingung bagaimana cara mengungkapkannya,
“Aku ingin bilang sesuatu.”
“Bicara
lah.”
“Aku..”
Chanmi memegangi kepalanya, Ia merasakan
pusing.
“Kau
kenapa?” Jun membatalkan apa yang ingin Ia ucapkan tadi, Ia memegangi kedua
bahu gadis didepannya itu.
“Ani,
akhir-akhir ini Aku sedikit pusing. Mungkin kurang istirahat.”
“Istirahatlah,
Aku antar kau pulang.”
***
Semenjak saat itu,
Jun tidak pernah bertemu Chanmi selama seminggu ini. Ia menghubungi ponsel
gadis itu, tetapi selalu tidak aktif. Ia pun pergi mengunjungi rumah gadis itu,
tetapi rumah tersebut selalu ditutup.
Ia meraih ponselnya dan mencari
nama ‘Park Jiyeon’, Gadis yang dia telefon itu adalah Sepupu Chanmi yang juga
teman baiknya saat sekolah menengah. Setelah menelefon sepupu Chanmi, bukan
kabar baik yang ia dengar tetapi kabar buruk. Ya, Chanmi sedang dirawat dirumah
sakit.
Jun meraih
Snapback nya dan bergegas kerumah sakit tempat dimana gadis yang Ia cintai itu
dirawat. Ia bertemu dengan Aboeji Chanmi, suatu kabar yang terucap oleh Aboeji Chanmi.
Kabar yang dapat membuat Jun merasakan kedua kakinya menjadi lemas. “Chanmi
menderita Alzhaimer”
***
Jun memasuki
kamar perawatan Chanmi. Tampak gadis itu sedang setengah berbaring. Ia tampak
seperti melamun, Wajahnya yang biasa polos menjadi terlihat pucat pasi. Jun
mendekati gadis itu.
“Chanmi
bagaimana keadaanmu?”
Gadis
itu menoleh pada Jun, tetapi dengan ekspresi datar. Bahkan, Ia tidak menjawab
pertanyaan yang dilontarkan Jun.
“Chanmi?”
“…………”
Hening,
Tidak ada respon sama sekali dari Chanmi. Raut wajahnya seperti orang sedang
kebingungan. Jun mulai mengangkat kedua tangannya, Ia memeganggi wajah cantik
didepannya. Ia melontarkan suatu pertanyaan kembali.
“Apa
kau tidak ingin menjawabku?”
“Nugu?”
***
#Jun POV
“Nugu?”
“Ya,
Chanmi pabo. Jangan bercanda, ini tidak lucu.”
“Bercanda
apa? Aku benar-benar tidak mengenalimu.” Aku menoleh pada wajahnya. merasakan
sesak dalam dadaku. Apa sudah separah itukah penyakit yang Ia alami sampai Ia
lupa denganku?
#Jun
POV end
***
#Author
POV
Jun
melangkahkan kakinya dari rumahsakit tersebut. Kembali kerumah dan mencabut
semua foto-foto diri Chanmi yang selama ini Ia lekatkan pada dinding rumahnya.
Ia mengumpulkan foto itu menjadi sebuah album. Tidak membuang waktu lama, Ia
langsung melangkahkan kakinya untuk kembali
ke rumah sakit.
Ia memasuki kamar perawatan itu
kembali, tampak Chanmi duduk pada tepi
ranjang,
Ia mencoba untuk mendekati gadis itu kembali “Kalau kau tidak ingat padaku,
Mari kita berkenalan. Aku Jun” Jun menyodorkan tangan kanannya. Tetapi, hanya
respon menoleh yang ia dapatkan.
Tangan
Jun mengeluarkan sebuah album kecil yang Ia bawa dari rumah, Ia membuka
perlembar halaman album tersebut kepada Chanmi.
“Ini
dirimu, kamu begitu cantik.” Chanmi tersenyum kecil.
Jun
kembali membuka halaman berikut pada album tersebut, nampak sebuah foto mereka
berdua bersama kue ikan mas. Chanmi tersenyum kembali, Ia menatap Jun lalu
menunjuk foto tersebut.
“Apa
kau mengingatnya?”
“Apa?
Aku ingin makan kue ikan mas.”
***
Tiga bulan berlalu,
waktu begitu cepat. Mengunjungi Chanmi, hal itu yang setiap hari dilakukan oleh
Jun. Ia hanya ingin mencoba, mencoba agar Chanmi dapat sembuh. Tetapi, semua
itu hanya nihil. Penyakit tersebut semakin parah, Bahkan Chanmi tidak tahu
siapa dirinya.
Jun mengeluarkan
beberapa kain putih, spidol, dan beberapa ikat tali.
“Apa
kau tahu boneka teru-teru bozu?” Chanmi menggeleng kepalanya.
Jun
membuat sebuah gumpalan dari kain putih tersebut, yang kemudian dibungkus lalu
diikat dengan sebuah pita.
“Apakah
kau mau menghiasnya.” Kali ini Chanmi mengangguk, ia tersenyum kecil.
“Boneka
yang lucu” Chanmi tertawa lepas, baru kali ini Jun dapat melihat sosok Chanmi
yang dulu, Chanmi yang ceria walau tidak sepenuhnya.
Jun
menarik nafasnya panjang, “Apa kau tau? Ini boneka kesukaanmu, boneka penangkal
hujan. Kau selalu mengajakku untuk membuat boneka ini. Tapi aku hanya bilang
kau adalah gadis yang bodoh bisa mempercayai dongeng. Eommamu telah lama pergi.
Kau bilang boneka ini satu-satunya agar kau bisa merasakan Eomma disisimu. Kau
bukan gadis yang bodoh, karenamu sekarang aku jadi bertindak aneh. Aku juga
percaya dengan mitos tersebut. Bahkan, aku hafal dengan lagu itu,”
Teru-teru-bōzu, teru bōzu
Ashita tenki ni shite o-kure
Itsuka no yume no sora no yō ni
Haretara kin no suzu ageyo
Jun melingkarkan
tangannya, Ia memeluk gadis tersebut dengan erat.
“Dangshin-eul
johahaeyo (aku menyukaimu)” Jun merasakan gadis yang ia peluk seperti tidak
sadarkan diri.
Beberapa
saat kemudian dua orang perawat membawa gadis itu. Seseorang berpakaian putih
mengatakan bahwa Chanmi telah pergi
***
Jun menopang kepalanya,
Ia tampak seperti melamun. Tidak lama
Setelah itu ia tersadar dari
lamunannya. Eommanya sedang memanggilnya,
Wanita
separuh baya itu mengatakan bahwa seseorang wanita sedang mencari Jun didepan
rumah.
Jun melangkahkan kakinya. setelah membuka pintu,
Ia nampak kaget dengan apa yang ada dihadapannya
“Annyeong,
Sunbae. Ini aku Kwon Mina, apa kau masih mengingatku?” Gadis ini adalah gadis
yang waktu itu diceritakan Chanmi.
“Tentu
saja, ada apa?”
“Ini.”
Gadis itu menyodorkan sebuah buku kecil berwarna pink, buku ini tampak seperti
buku harian.
“Waktu
itu aku bertemu Chanmi Eonni saat membeli Bungeoppang. Saat Eonni pergi, ternyata Ia
menjatuhkan buku ini. Aku ingin mengejarnya, Tapi ia sudah naik Bus. Aku tidak
tahu apa isinya, aku tidak berani membukanya. Tadi aku sudah kerumah Eonni,
tapi rumah tersebut sudah kosong. Jadi aku kesini untuk menitipkan buku ini,
Aku tahu Oppa adalah teman baiknya. Mian baru sempat mengembalikan karna
akhir-akhir ini Aku ada masalah” Mina membungkukkan badannya 90derajat.
***
Jun sedari tadi memandangi buku tersebut,
Ia bingung apa Ia harus membuka buku tersebut atau tidak. Tapi akhirnya Ia
putuskan untuk membuka buku tersebut. Jun membuka halaman pertama buku
tersebut.
Buku ini adalah milik Park Chanmi
Ternyata benar dugaannya, bahwa itu adalah buku harian. Jun
membuka beberapa halaman berikutnya.
Akhir-akhir ini aku sering pusing. Aku juga sering mimisan. Keadaan
seperti ini membuat ku merasakan seperti perasaan yang aneh dan tidak enak
Jun kembali membuka halaman berikutnya, Halaman sebelum
halaman kosong.
Hari ini hari yang cerah, ini karena teru-teru bozu. Aku pergi makan
jajangmyeon dengan laki-laki yang
kucintai. Sebenarnya kita ingin makan bibimbap. Aku menggunakan alasan bibimbap
agar ia jadi jalan denganku. Ia bilang ada sesuatu yang ingin disampaikan, tapi
aku malah tersedak. Jun yang aneh. Tadi ia juga menunjukkan kamera barunya
padaku. Kamera yang ia beli dengan kerja part-time. Sepanjang jalan tadi ia
selalu memotretku. Hahaha. Aku benar-benar menyukai itu. Terimakasih untuk hari
ini!
Jun menutup buku tersebut, “Sekarang Aku mengetahui
jawabannya.” Ia tersenyum kecil.
END
Ashita tenki ni shite o-kure
Itsuka no yume no sora no yō ni
Haretara kin no suzu ageyo
Teru-teru-bōzu, teru bōzu
Ashita tenki ni shite o-kure
Watashi no negai wo kiita nara
Amai o-sake wo tanto nomasho
Teru-teru-bōzu, teru bōzu
Ashita tenki ni shite o-kure
Sonata no kubi wo chon to kiru
Ashita tenki ni shite o-kure
Itsuka no yume no sora no yō ni
Haretara kin no suzu ageyo
