Selasa, 24 Desember 2013

[Fanfiction] Raining Day

Raining Day

Writter : sweetchanmies

Cast :
·       Park Chanmi
·       Kang Jun

Summary : Jun, laki-laki yang mencintai seseorang gadis  yang terobsesi dengan boneka penangkal hujan, teru-teru bozu. Gadis itu tidaklah lain adalah sahabatnya sendiri. Tetapi, pada suatu hari gadis yang Ia cintai mengidap penyakit Alzhaimer.  Apakah semua berakhir sampai disitu?

Genre : Romance

Description : Fanfic ini terinspirasi dari MV Huh Gak – The Person who once loved me. Cast adalah milik mereka sendiri. Mohon kritikannya ^ ^
----------------------------------------------------------------------------------
#Author Pov
#flashback
                     “Ini hanya dongeng,” Anak laki-laki yang berumur 8 tahun ini hampir dibuat pusing oleh teman sebayanya, Park Chanmi.
“Mengapa kau buat boneka ini banyak sekali? Hujan tak akan berhenti.”
“stttt, Aku senang sekali berdarmawisata. Esok akan cerah bila aku memasang ini.” Gadis mungil yang bernama Chanmi ini terus-terusan membuat gumpalan tisue yang akhirnya di bungkus dengan kain putih lalu diikat dengan pita.
“Ya, Jun! buatanmu jelek sekali seperti hantu.”
Teru-teru-bōzu, teru bōzu
Ashita tenki ni shite o-kure
Itsuka no yume no sora no yō ni
Haretara kin no suzu ageyo
Teru-teru-bōzu, teru bōzu
Ashita tenki ni shite o-kure
Watashi no negai wo kiita nara
Amai o-sake wo tanto nomasho
Teru-teru-bōzu, teru bōzu
Ashita tenki ni shite o-kure

Sorete mo kumotte naitetara
Sonata no kubi wo chon to kiru
#flashbackend
                                                                        ***
                     Chanmi menatap jendela kamar tidurnya dengan penuh harapan, harapan bahwa “Hujan akan segera berhenti”. Ia memaki-maki dirinya, bagaimana ia bisa lupa memasang Teru-teru bozu kemarin siang. Ia sudah bersiap-siap untuk pergi ke kedai bersama Jun untuk makan bersama. Chanmi mulai merogoh kantong celana jeansnya untuk mengambil ponsel, dengan segera ia mencari kontak bernama ‘Kang Jun’
“Yeoboseo?”
“Ah, Jun-ah. Bagaimana? diluar hujan.”
“Kita pergi lain kali saja.”
“Shiro. aku ingin makan Bibimbap,” Chanmi mulai mengeluarkan raut muka kesal
“Hahaha, Kau ini sudah berusia 19 tahun, bukan 7 tahun lagi. Baiklah, besok Aku akan menjemputmu, ottoke?”
“Jinjja? Sampai jumpa esok! Aku tidak akan lupa memasang Teru-teru bozu.”
“Ya, Pabo. Berhentilah percaya dengan mitos.”

                                  Disisi lain, Jun memaki-maki dirinya sendiri. Bagaimana Ia bisa lupa memasang boneka penangkal hujan tersebut. Padahal, hari ini Ia akan menyatakan perasaannya kepada orang yang begitu Ia cintai.
                                                                      ***
                               Langit benar-benar cerah. Ya, menurut Chanmi ini semua karena ia memasang teru-teru bozu. Hari ini gadis itu memakai T-shirt putih polos dengan celana jeans selutut, rambutnya dikuncir satu seperti pony yang dihiasi pita berwarna biru-muda bermotif kotak-kotak. Tetapi, raut mukanya tetap sedih. Ya, hujan memang tidak turun. Tetapi, kedai tersebut tutup.
                               “Aish, Kemarin hujan sekarang tutup. Apa aku tidak boleh makan bibimbap?!”  gadis itu mendadak menjadi lesu, entah angin apa ia ingin sekali makan bibimbap.
                              Jun tertawa melihat tingkah laku gadis disampingnya, Chanmi benar-benar bertingkah seperti anak kecil bila ia ingin sesuatu. Beberapa saat kemudian, seseorang Ahjumma membawakan dua jajangmyeon.
                              Dengan beberapa suapan, semangkuk jajangmyeon hampir habis oleh Chanmi.
“Hey, kau seperti monster yang belum makan tiga tahun.” Jun kembali tertawa
“Jangan berlebihan, aku hanya tidak makan dari pagi.” Gadis itu menatap Jun sebentar dan kembali makan.
                              Jun membuka ranselnya dan mengeluarkan sebuah kamera berwarna hitam.
“Ya, pabo. Lihat, aku baru membeli kamera,”
“Jinja? Apa ini benar-benar kameramu?” gurau Chanmi.
“Hey jelas ini punyaku, aku bekerja part-time demi membeli ini.”
“Jinja? Woah, dangshineun daedanhaeyo! (you’re amazing),”      
“foto aku dengan nae jajangmyeon.” Chanmi tersenyum . Ia menggerakkan jari telunjuknya kearah bibir manisnya dan mengembungkan kedua pipi.
“hana, dul, chess”
Jun tertawa kecil melihat hasil potretannya, gaya Chanmi begitu lucu.
“ya! Mengapa tertawa? Apa aku terlihat jelek? Berikan kamera itu!”  Jun memberikan kamera itu dan kembali tertawa.
“ani, kawan kecilku begitu cantik.”  Jun tersenyum kecil

Chanmi meneruskan makannya, ia tertawa kecil melihat potretan dirinya tersebut.
“Chanmi..”
“Ne?”
“Aku ingin bicara sesuatu.”
“Mwo? Bicara saja.”
“Aku ….”
Hek, tiba-tiba saja Chanmi tersedak. Ia segera meraih gelas yang berisi air di sebelah kirinya.
“Pabo, lain kali makannya hati-hati.”
“Oh iya, tadi kau mau bilang apa?”
“ahh.. tidak, apa mau mengambil selca kita?” Jun menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lagi-lagi ia gagal menyatakan perasaan. Ia meraih kameranya, dan mengubah mode pada kameranya menjadi mode timer. 
                                                               ***
#Chanmi POV
                                  Hari yang begitu menyenangkan. Aku mulai membuka Diaryku yang selalu kuletakkan disebelah lampu tidur. Menulis sekian kisah yang kujalani hari ini. Aku adalah orang yang gemar menulis. Mungkin, menulis Diary menurut sebagian orang adalah hal yang terlalu kekanak-kanakan. Tapi, Aku tetap memegang perkataan Eomma bahwa “Tak peduli perkataan orang lain, jalani hidup dengan percaya diri”
#Chanmi pov end
                                                                                    ***
#Author POV
                                  “Jun-ah apa kau lapar?” Mereka tengah menonton di ruang tengah keluarga Jun, ruangan begitu minimalis yang tersambung dengan dapur tersebut tidak terlalu besar, hanya dihiasi oleh dua pohon maple kecil dan aquarium ikan hias.
“Wae?”
“Ani, Aku lupa. Tadi dijalan aku membeli Bungeoppang untukmu.” Chanmi meraih tas putih yang ia letakkan didekat sofa. Ia mengeluarkan sebungkus Bungeoppang dan membelah bagian kue kacang merah tersebut menjadi dua bagian. Gadis polos ini memberikan bagian ekor kue tersebut kepada Jun
Kau tidak pernah berubah, selalu memberikan bagian paling kecil dengan ku.” Jun mengacak rambut Chanmi.
“Oh ya. Waktu membeli Bungeoppang, Aku bertemu dengan Kwon Mina. Apa kau masih mengingatnya?”
“Hmmm,ani . Siapa?” Jun memegangi kepalanya dengan kedua tangannya, Ia berusaha mengingat siapa gadis yang bernama Kwon Mina tersebut.
“Aigo, berapa umurmu? Dirimu begitu pikun! Hahaha. Ia Hobae kita saat di Junior High School.” tawa Chanmi.
“Oh. Gadis yang waktu itu kulempar bola basket?”
“Ne, sepertinya dia sedang sedih.”
Jun tertawa, “Hahaha. Chanmi pabo, sejak kapan menjadi paranormal?”
“Jun, mari berfoto dengan Bungeoppang kita.” Pinta Chanmi . Jun segera bangkit dari duduknya ke kamar, Ia mengambil kamera yang baru dibelinya itu. Ya, lebih baik Jun yang mengambilnya sendiri. Daripada Chanmi harus melihat semua foto-foto dirinya yang ada di dinding kamar Jun.
                              Gaya mereka benar-benar lucu. Seusai berfoto Jun kembali berfikir untuk menyatakan perasaannya kembali.
“Chanmi.”
“wae?”
Jun menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Ia bingung bagaimana cara mengungkapkannya, “Aku  ingin bilang sesuatu.”
“Bicara lah.”
“Aku..”
                                                                    
                             Chanmi memegangi kepalanya, Ia merasakan pusing.
“Kau kenapa?” Jun membatalkan apa yang ingin Ia ucapkan tadi, Ia memegangi kedua bahu gadis didepannya itu.
“Ani, akhir-akhir ini Aku sedikit pusing. Mungkin kurang istirahat.”
“Istirahatlah, Aku antar kau pulang.”
                                                                  ***

                               Semenjak saat itu, Jun tidak pernah bertemu Chanmi selama seminggu ini. Ia menghubungi ponsel gadis itu, tetapi selalu tidak aktif. Ia pun pergi mengunjungi rumah gadis itu, tetapi rumah tersebut selalu ditutup.
                               Ia meraih ponselnya dan mencari nama ‘Park Jiyeon’, Gadis yang dia telefon itu adalah Sepupu Chanmi yang juga teman baiknya saat sekolah menengah. Setelah menelefon sepupu Chanmi, bukan kabar baik yang ia dengar tetapi kabar buruk. Ya, Chanmi sedang dirawat dirumah sakit.
                              Jun meraih Snapback nya dan bergegas kerumah sakit tempat dimana gadis yang Ia cintai itu dirawat. Ia bertemu dengan Aboeji Chanmi, suatu kabar yang terucap oleh Aboeji Chanmi. Kabar yang dapat membuat Jun merasakan kedua kakinya menjadi lemas. “Chanmi menderita Alzhaimer”
***
                              Jun memasuki kamar perawatan Chanmi. Tampak gadis itu sedang setengah berbaring. Ia tampak seperti melamun, Wajahnya yang biasa polos menjadi terlihat pucat pasi. Jun mendekati gadis itu.
“Chanmi bagaimana keadaanmu?”
Gadis itu menoleh pada Jun, tetapi dengan ekspresi datar. Bahkan, Ia tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan Jun.
 “Chanmi?”
  “…………”
Hening, Tidak ada respon sama sekali dari Chanmi. Raut wajahnya seperti orang sedang kebingungan. Jun mulai mengangkat kedua tangannya, Ia memeganggi wajah cantik didepannya. Ia melontarkan suatu pertanyaan kembali.
“Apa kau tidak ingin menjawabku?”
“Nugu?”
***
  #Jun POV
                               “Nugu?”
“Ya, Chanmi pabo. Jangan bercanda, ini tidak lucu.”
“Bercanda apa? Aku benar-benar tidak mengenalimu.” Aku menoleh pada wajahnya. merasakan sesak dalam dadaku. Apa sudah separah itukah penyakit yang Ia alami sampai Ia lupa denganku?

#Jun POV end
***
#Author POV
Jun melangkahkan kakinya dari rumahsakit tersebut. Kembali kerumah dan mencabut semua foto-foto diri Chanmi yang selama ini Ia lekatkan pada dinding rumahnya. Ia mengumpulkan foto itu menjadi sebuah album. Tidak membuang waktu lama, Ia langsung melangkahkan kakinya untuk kembali  ke rumah sakit.
Ia memasuki kamar perawatan itu kembali, tampak Chanmi duduk pada tepi
ranjang, Ia mencoba untuk mendekati gadis itu kembali “Kalau kau tidak ingat padaku, Mari kita berkenalan. Aku Jun” Jun menyodorkan tangan kanannya. Tetapi, hanya respon menoleh yang ia dapatkan.
Tangan Jun mengeluarkan sebuah album kecil yang Ia bawa dari rumah, Ia membuka perlembar halaman album tersebut kepada Chanmi.
“Ini dirimu, kamu begitu cantik.” Chanmi tersenyum kecil.
Jun kembali membuka halaman berikut pada album tersebut, nampak sebuah foto mereka berdua bersama kue ikan mas. Chanmi tersenyum kembali, Ia menatap Jun lalu menunjuk foto tersebut.
“Apa kau mengingatnya?”
“Apa? Aku ingin makan kue ikan mas.”
                                                                                                                           
***
                         Tiga bulan berlalu, waktu begitu cepat. Mengunjungi Chanmi, hal itu yang setiap hari dilakukan oleh Jun. Ia hanya ingin mencoba, mencoba agar Chanmi dapat sembuh. Tetapi, semua itu hanya nihil. Penyakit tersebut semakin parah, Bahkan Chanmi tidak tahu siapa dirinya.
                          Jun mengeluarkan beberapa kain putih, spidol, dan beberapa ikat tali.
“Apa kau tahu boneka teru-teru bozu?” Chanmi menggeleng kepalanya.
Jun membuat sebuah gumpalan dari kain putih tersebut, yang kemudian dibungkus lalu diikat dengan sebuah pita.
“Apakah kau mau menghiasnya.” Kali ini Chanmi mengangguk, ia tersenyum kecil.
“Boneka yang lucu” Chanmi tertawa lepas, baru kali ini Jun dapat melihat sosok Chanmi yang dulu, Chanmi yang ceria walau tidak sepenuhnya.
Jun menarik nafasnya panjang, “Apa kau tau? Ini boneka kesukaanmu, boneka penangkal hujan. Kau selalu mengajakku untuk membuat boneka ini. Tapi aku hanya bilang kau adalah gadis yang bodoh bisa mempercayai dongeng. Eommamu telah lama pergi. Kau bilang boneka ini satu-satunya agar kau bisa merasakan Eomma disisimu. Kau bukan gadis yang bodoh, karenamu sekarang aku jadi bertindak aneh. Aku juga percaya dengan mitos tersebut. Bahkan, aku hafal dengan lagu itu,”
Teru-teru-bōzu, teru bōzu
Ashita tenki ni shite o-kure
Itsuka no yume no sora no yō ni
Haretara kin no suzu ageyo

                            Jun melingkarkan tangannya, Ia memeluk gadis tersebut dengan erat.
“Dangshin-eul johahaeyo (aku menyukaimu)” Jun merasakan gadis yang ia peluk seperti tidak sadarkan diri.
Beberapa saat kemudian dua orang perawat membawa gadis itu. Seseorang berpakaian putih mengatakan bahwa Chanmi telah pergi
                                
***

                        Jun menopang kepalanya, Ia tampak seperti melamun. Tidak lama
Setelah itu ia tersadar dari lamunannya. Eommanya sedang memanggilnya,
Wanita separuh baya itu mengatakan bahwa seseorang wanita sedang mencari Jun didepan rumah.
                         Jun  melangkahkan kakinya. setelah membuka pintu, Ia nampak kaget dengan apa yang ada dihadapannya
“Annyeong, Sunbae. Ini aku Kwon Mina, apa kau masih mengingatku?” Gadis ini adalah gadis yang waktu itu diceritakan Chanmi.
“Tentu saja, ada apa?”
“Ini.” Gadis itu menyodorkan sebuah buku kecil berwarna pink, buku ini tampak seperti buku harian.
“Waktu itu aku bertemu Chanmi Eonni saat membeli Bungeoppang. Saat Eonni pergi, ternyata Ia menjatuhkan buku ini. Aku ingin mengejarnya, Tapi ia sudah naik Bus. Aku tidak tahu apa isinya, aku tidak berani membukanya. Tadi aku sudah kerumah Eonni, tapi rumah tersebut sudah kosong. Jadi aku kesini untuk menitipkan buku ini, Aku tahu Oppa adalah teman baiknya. Mian baru sempat mengembalikan karna akhir-akhir ini Aku ada masalah” Mina membungkukkan badannya 90derajat.
***
                      Jun sedari tadi memandangi buku tersebut, Ia bingung apa Ia harus membuka buku tersebut atau tidak. Tapi akhirnya Ia putuskan untuk membuka buku tersebut. Jun membuka halaman pertama buku tersebut.

Buku ini adalah milik Park Chanmi

Ternyata benar dugaannya, bahwa itu adalah buku harian. Jun membuka beberapa halaman berikutnya.

Akhir-akhir ini aku sering pusing. Aku juga sering mimisan. Keadaan seperti ini membuat ku merasakan seperti perasaan yang aneh dan tidak enak

Jun kembali membuka halaman berikutnya, Halaman sebelum halaman kosong.

Hari ini hari yang cerah, ini karena teru-teru bozu. Aku pergi makan jajangmyeon dengan laki-laki  yang kucintai. Sebenarnya kita ingin makan bibimbap. Aku menggunakan alasan bibimbap agar ia jadi jalan denganku. Ia bilang ada sesuatu yang ingin disampaikan, tapi aku malah tersedak. Jun yang aneh. Tadi ia juga menunjukkan kamera barunya padaku. Kamera yang ia beli dengan kerja part-time. Sepanjang jalan tadi ia selalu memotretku. Hahaha. Aku benar-benar menyukai itu. Terimakasih untuk hari ini!

Jun menutup buku tersebut, “Sekarang Aku mengetahui jawabannya.” Ia tersenyum kecil.



END