Kamis, 23 Januari 2014

[Profile] AOA

AOA ( Ace Of Angels ) Profile
~ Member Profiles ~
Stage Name: Seolhyun
Birth Name: Kim Seol Hyun
Angel Name: Seolhyunari
Birthday: January 3, 1995
Position: Sub-Vocalist, Dancer
Height: 167 cm
Weight: 47 kg
Facts: She was appeared as the female actress in FT Island’s “Severely” MV.
Stage Name: Choa
Birth Name: Park Cho Ah
Angel Name: Choaya
Birthday: March 6, 1990
Position: Main Vocalist, Guitarist, Dancer
Height: 160 cm
Weight: 42 kg
Stage Name: Hyejeong
Birth Name: Shin Hye Jeong
Angel Name: Hyejeong.Linus
Birthday: August 10, 1993
Position: Sub-Vocalist, Dancer
Height: 170 cm
Weight: 48 kg
Facts: She makes cameo appearance in TV series; A Gentleman’s Dignity (2012) on the 3rd episode as the daughter of Na Jong Seok (played by Kim Dong Gyun).
Stage Name: Chanmi
Birth Name: Kim Chan Mi
Angel Name: Chanmi T.T
Birthday: June 19, 1996
Position: Sub-Vocalist, Dancer, Maknae
Height: 166 cm
Weight: 47 kg
Stage Name: Yuna
Birth Name: Seo Yu Na
Angel Name: Yunaria
Birthday: December 30, 1992
Position: Keyboardist, Dancer
Height: 163 cm
Weight: 45 kg
Stage Name: Mina
Birth Name: Kwon Min Ah
Angel Name: Minaring
Birthday: September 21, 1993
Position: Bassist, Rapper, Dancer
Height: 160 cm
Weight: 43 kg
Facts: She was an ulzzang.
Stage Name: Jimin
Birth Name: Shin Ji Min
Angel Name: Jiminel
Birthday: January 8, 1991
Position: Leader, Guitarist, Rapper, Dancer
Height: 160 cm
Weight: 43 kg
Stage Name: Youkyung
Birth Name: Seo You Kyung
Angel Name: Y
Birthday: March 15, 1993
Position: Drummer
Height: 167 cm
Weight: 48 kg

[Fanfiction] Heaven

Heaven

Cast           :
-       - Shin Hyejeong
-       - Yo Seok
Writer        : sweetchanmies
Genre         : Sad
***
Hyejeong POV
                Masa depan adalah bagian dari takdir, dan takdir adalah kenyataan. Takdir tidak dapat diubah, tapi masa depan dapat diubah. Puluhan memori kembali terkenang didalam pikiranku. Rangkaian kisah menyenangkan, rangkaian kisah menyedihkan.
                “Gilin Oppa.” Panggilku kepada kakak laki-lakiku.
                Ia mengunci bibirku dengan jari telunjuknya, “berhenti memanggil Oppa gilin, namaku Yo Seok.”
                “Arraseo, tapi Oppa memang tinggi seperti gilin (jerapah).” Ledekku seraya menjulurkan lidah.
                Takdir, Aku hanya ingin semuanya berakhir indah. Tetapi, kenyataan berbeda. Mereka meninggalkanku. Oppa pergi meninggalkanku ketempat yang paling jauh, tempat yang tidak bisa kudatangi sekarang. Kembali Aku memikirkan memori yang tak akan kulupakan.
                Bunyi keras mengagetkan kedua telingaku. Aku membalikan badanku, Lututku lemas melihat apa yang dihadapanku. Air mataku mengalir membasahi kedua pipiku. Darah segar mengalir dari tubuh orang yang benar-benar kusayang. Oppa, kakak laki-laki satu-satunya yang kumiliki bergeletak pada badan aspal jalan. Tubuhnya penuh dengan darah. Aku berteriak, “Ini semua salahku, ini semua salahku.”
                Andai Aku bisa mengendalikan waktu, mengapa tidak Aku saja yang pergi?
                “Aku mencintaimu, saranghaeyo shin hyejeong-ah”
                Aku melepaskan pelukannya, “itu tentu, karna kita kakak beradik. Tidak mungkin Oppa membenciku.”
                Oppa mengeluarkan sesuatu dari saku mantelnya, sebuah kotak kecil berwarna merah muda yang dihiasi ikatan pita emas. “Maksudku lebih dari itu, Aku ingin Kau menjadi Yeojachinguku.”
                “Mwo? Tapi Kau adalah kakakku?”
                Ia membuka kotak merah muda tersebut, diambilnya cincin berkilau yang ada dalam kotak kecil itu. “Aku tahu, Kau mencintaiku.”
                “Aku memang mencintaimu Oppa, tapi sebagai kakak kandungku.”
                “Apa Kau pikir kita sedarah?”
                “Oppa, Kau tidak pernah bicara sekasar itu denganku.”
                “Karena Aku bukan kakakmu!”
                PLAK, Aku mendaratkan tamparan pada wajahnya. “Dengar ya. sampai Aku mati Kau adalah Oppaku. Kau tetap kakakku.”
                Aku berlari secepat mungkin, berusaha meninggalkan Oppa. “Shin Hyejeong!” kudengar teriakkannya, Aku mencoba untuk meliriknya. Kulihat Ia mengejarku. “Shin Hyejeong, tunggu.” Kudengar kembali teriakannya. Sampai sesuatu yang aneh terdengar ditelingaku.
                Tak kudengar lagi Oppa berteriak memanggilku. Yang kudengar hanyalah suara hantaman keras yang membuatku tersentak. Aku menghentikan langkah kakiku dan mencoba melihat apa yang terjadi dibelakangku. “Oppa?” Aku berlari, Ia tidak sadarkan diri. Darah segar mengalir deras dari tubuhnya. Sebuah bis menghantamnya. “Oppa jangan pergi.”
                12 Tahun Yang Lalu
                Usiaku masih tujuh tahun. Saat itu Aku benar-benar polos. Aku memiliki kakak kandung, namanya Shin Yo Seok. Ia tua dariku empat tahun. Aku sangat menyayanginya, Ia adalah kakak terbaik yang kupunya. Waktu nilai tugasku jelek, Oppa mengajariku hingga Aku tersenyum kembali. Waktu Aku terjatuh dari sepeda, Oppa yang membalut lukaku. Dia menghiburku, “Ujima, Hyejeong jika menangis seperti badut”.
Yo Seok Oppa mengenalkanku pada tetangga baru kami. Usianya berbeda tiga tahun lebih tua dariku. Ia juga baik seperti Oppa. Aku memanggilnya ‘Gilin’ karena Ia tinggi seperti jerapah, tingginya sangat jauh berbeda dariku. Ia juga memiliki nama yang sama seperti Oppa kandungku. Ia bernama Kim Yo Seok, hanya marga yang membedakan nama mereka. Kami selalu bersama.
Suatu hari orang tua Kim Yo Seok Oppa meninggal karena kecelakaan. Appa dan Eomma mengijinkannya untuk tinggal dirumah kami. Karena Yo Seok Oppa yatim piatu. Ia tidak memiliki saudara lagi disini. Appa dan Eomma menyekolahkannya di tempat dimana Aku dan Oppa bersekolah. Ia adalah anak yang pintar, selalu mendapatkan peringkat satu. Tidak sepertiku.
                Tidak lama setelah itu. Oppaku Shin Yo Seok meninggalkan kami. Oppa meninggal karena penyakit Asma. Waktu itu Aku benar-benar tidak tahu apa-apa, “Oppa, ayo bangun. Oppa janji ingin main denganku kan?”. Eomma bilang Oppa tidak akan bangun lagi, Ia ingin pergi ketempat yang sangat jauh.
                Semenjak itu, Aku selalu menganggap Gilin Oppa sebagai kakak kandungku keduaku. Aku kembali menemukan sosok orang yang sangat menghiburku. “Uljima, kata Oppamu. Aku akan menjagamu selalu.”
 ***
                Aku menanamkan pohon maple kecil pada tanah pemakaman Oppa. Disebelahnya terdapat pohon maple besar yang sudah tertanam dua belas tahun lampau. Kami memakamkan Oppa tepat disamping makam kakak kandungku.
                Aku melipat keduatelapak tanganku dan menutup kedua mataku. “Oppa, maafkan Aku.”
                Aku melangkahkan kakiku pada pohon maple besar yang ada disamping makam Yo seok Oppa. “Oppa, sudah lama kita tak bermain bersama. Tapi Aku Tahu, Oppa selalu ada disampingku. Aku tidak akan melupakan kalian. Kalau Aku menikah, kalian harus datang. Ne?” Aku kembali melipat kedua telapak tanganku.
                Inilah kenyataan. Kenyataan yang harus kuhadapi. Kenyataan yang tak pernah bisa kuhindari, Aku tahu kalian mengawasiku diatas sana.
***
                “Hyejeong-ssi. Apa yang membuatmu ingin menuangkan kisahnyatamu dalam novelmu kali ini? Novelmu langsung terjual habis dalam ribuan copy saat baru pertama kali di release.” Tanya seorang wartawan sambil melambaikan tangannya.
                “Ya, Kisah itu benar-benar terjadi padaku lima tahun yang lalu. Kakak angkatku meninggal saat Aku berusia Sembilan belas tahun. Sementara kakak kandungku meninggal tujuh belas tahun yang lalu. Aku selalu merapikan makam mereka setiap hari. Mereka adalah penyemangat dan inspirasiku.” Kataku sambil tersenyum.
Aku akan menemukan kalian, walau harus seribu tahun kulalui…


END

Selasa, 21 Januari 2014

[Fanfiction] Perfect Christmas


Writer         : Sweetchanmies
Cast             :
·        Kim Myungsoo (Infinite)
·        Ryu a.k.a Lee Hyemi (OC)
·        Nagashi Ikuya (OC)
Genre          : Romance, PG13
Length         : Oneshoot
Author’s Note  : No plagiator. Karena baru belajar buat fanfict, jadi mohon kritik sarannya^ ^. penjelasan tentang jepang ga terlalu full disini. nanti bakal dimuat di fanfict selanjutnya.
***
            Kim Myungsoo. Nama tersebut tidak asing lagi di Jajaran Korea Selatan. Ia adalah pewaris pertama dari LC Group, perusahaan pengiklanan kedua terbesar diKorea Selatan. Walaupun umurnya yang muda tetapi Ia akan memiliki peranan penting dalam perusahaan tersebut.
                Disisi lain, seorang Gadis cantik berponi rata dengan Crop Tee dan jeans panjang berjalan melewati sebuah kedai Takoyaki, makanan khas Jepang berbentuk bulat yang terbuat dari adonan tepung dengan isi gurita didalamnya. Biasanya Takoyaki dilumuri oleh saus dan potongan rumput laut. Ia dalam perjalanan ke Café tempat dimana Ia bekerja. Ia berhenti sebentar didepan kedai tersebut. Terlihat ia sedang memegangi perutnya, ‘Mungkin aku harus membeli satu’ batinnya.
                “One.” Yeoja ini tersentak dan segera menoleh kekanan. Seorang Pria mendahuluinya.
                “Hey, aku memesan dahulu.”
                “Sumimasen, Takoyaki hanya sisa satu kotak.” Ucap sang pemilik kedai seraya membentuk angka satu pada jarinya.
                “Give it to me and I will pay you 3x.” Pria tersebut mengeluarkan dompet dan mengambil beberapa lembaran uang yen didalamnya, kemudian pria tersebut pergi seperti tidak tau apa-apa.

***
               

Musim dingin akan tiba dalam waktu kurang lebih empat hari lagi. Beberapa market melakukan diskon besar-besaran. Daun-daun berguguran sudah mulai berkurang. Seorang gadis berponi rata sedang duduk menopang dagunya pada meja kasir sebuah Café, tatapannya seperti orang yang sedang melamun. Hari ini Café benar-benar sepi sampai gadis itu lelah.
“Hey, one please.” Seorang pria membuyarkan lamunannya.
                Ia tersentak kaget.
                Drrrt, Pria itu mengeluarkan ponsel dari kanton jeansnya. “Yeoboseyo? Nde? Bilang kepada Aboeji, Aku diJepang untuk satu bulan.” Lalu ia menutup ponselnya.
                “Mwo? Apa kau orang Korea?” Gadis itu kaget.
                “Ne, kau sangat fasih. Apa kau juga orang Korea?”
                “Bisa dibilang begitu. Aku Lee Hyemi, Orang disini memanggilku Ryu.”
                “Kim Myungsoo.”
                Ryu adalah gadis blasteran Korea-Jepang. Aboejinya adalah orang Korea asli, sedangkan Eommanya adalah orang asli Jepang. Pada saat Ryu genap berumur sepuluh tahun,  mendadak saja Aboejinya mendapatkan perpindahan pekerjaan ke Jepang sehingga Ryu juga terpaksa untuk tinggal menetap di Jepang.
                “Setelah ku ingat-ingat, Kau ini yang mengambil takoyakiku kemarin.”
                “Ani, Aku membayar itu. Bahkan membayarnya tiga kali lipat,” Ucap Myungsoo cuek sambil melihat papan besar yang berisi  daftar menu Café.
                Ryu tampak mengkerutkan mulutnya. “Aku pesan satu MoccaChino.” Ucap Myungsoo.
                Ryu berjalan menuju mesin kopi, mengambil gelas dan mengisi gelas tersebut dengan Mocca panas. Setelah itu, Ia memberi satu seprotan krimmer dan taburan bubuk Choco Grand. Lalu Ryu kembali dan memberikan kopi tersebut kepada Myungsoo.
                Myungsoo mengeluarkan ponselnya, “Isi nomor ponselmu.”
                “Mwo? Ya, apa kau tertarik padaku?” Ryu tertawa. Ia mengambil ponsel touchscreen milik Myungsoo dan mulai mengisi nomor ponselnya sendiri.
                Myungsoo mengeluarkan senyum evilnya, Ia mengeluarkan selembaran uang Yen yang kemudian diberikan kepada Ryu. “Ambil saja kembaliannya.” Kemudian, Ia pergi meninggalkan Café tersebut.

***

                Dua hari lagi musim dingin akan tiba, Waktu begitu cepat. Malam itu Ryu tengah membereskan kamar.  Akhir-akhir ini kamarnya begitu kotor, seperti tidak menandakan kamar seorang ‘perempuan’. Seperti bungkusan cokelat dan cup ramen berserakan, tisue yang habis dipakai, comic yang telah dibaca, pakaian dalam dan kasur yang berantakan. Ryu mengambil beberapa comic yang berserakan dan mengumpulkannya diatas sebuah rak kayu jati yang terlihat antic seperti zaman oda.
                Ryu menghembuskan nafasnya, “Huh, akhirnya selesai juga.”
                Drrrrttt, baru saja ia merebahkan diri pada kasur yang terbentang pada lantai kayu. Tetapi, sesuatu yang bergetar dibalik kantong celana putihnya. Ia segera merogoh kantong. sebuah pesan dari seseorang yang tidak dikenal.
                ‘Apakah ini Hyemi-ssi?’
                Ryu tersenyum, Ia mengetahui bahwa pesan tersebut pasti dari Myungsoo. ‘Ne, nugu?’
                ‘Ini Aku yang meminta nomor ponselmu tadi siang. Apakah besok kau sibuk?’
                ‘Eoh? Tidak. Kebetulan besok Aku libur bekerja. Ada apa?’
                ‘Aku tunggu Kau besok di Café jam 11 siang. Selamat Malam.’
                ‘Oh? Arraseo. Selamat malam’
                “Orang Korea itu mau apa sih.” Batin Ryu.

***
                Udara menjadi lembab membuat bibir menjadi kering, bagaimana tidak? Hari ini musim sudah memasuki musim dingin. Hari ini Ryu tidak bekerja di Café, Ia diliburkan selama 3 hari.  Karena itu Ia mengiyakan permintaan Myungsoo, laki-laki yang Ia kenal untuk bertemu di Café tempat Ia bekerja.
                “Ini Hot Coffee mu.” Yuko memberikan segelas kopi panas berukuran medium kepada Ryu, Yeoja itu adalah teman satu kerja Ryu di Café.
                “Arigato.”
                “Ryu, Ada apa kemari? Bukankah kau diliburkan?”
                “Aku menunggu seseorang,” Kata Ryu sambil mengkoyak bungkusan putih berisi butiran gula.
                “Yuko, Aku permisi dulu. Sayonara, ganbatte dalam bekerja.” Lanjutnya.
                Ryu berjalan kesebuah meja didekat dinding Café yang berwarna hijau natural untuk duduk disana seraya memandang ke arah pintu masuk. Sudah 30 menit dari jam 11, laki-laki tersebut tidak kunjung datang. ‘‘Menyebalkan, apa dia mengerjaiku?’’ Batinnya.
                Tidak lama kemudian, seorang pria  berpakaian tebal dan wajahnya ditutupi sebuah masker hitam datang menghampiri Ryu.
                Ia duduk dan membuka maskernya, “Mian, apa aku terlambat?” Ucap Laki-laki beraksen Seoul, Korea tersebut tidak lain adalah Kim Myungsoo.
                “Jugulae? Aku hampir gila karena menunggumu. Baiklah, jadi apa maksudmu menyuruhku kesini? Aku tidak ingin basa-basi” Gerutu Ryu seraya menghirup kopi panas yang ada dihadapannya.
                “Aku bosan. Temani aku jalan-jalan seharian ini.”
                Ryu tersedak, “Maksudmu Kau ingin berkencan denganku?”
                “Ya Pabo, Kau terlalu percaya diri. Maksudku sebagai TourLeader, Aku tidak begitu mengenal Jepang.” Selak Myungsoo.
                “Baiklah, Karena Aku adalah Yeoja yang baik hati.”
                Mereka berdua melangkah keluar dari café, “Kita naik mobil?”
                “Masuklah, nanti kau tunjukkan jalannya.”
                Mereka memutuskan untuk pergi ke Oane Park, salah satu taman hiburan yang baru saja dibuka di Hokkaido, Jepang. Dalam perjalanan mereka saling berbagi cerita hidup mereka masing-masing. Perjalanan tersebut membuat mereka semakin akrab dan membuang rasa canggung.
                “Sebenarnya sudah lama tidak jalan-jalan seperti ini.” Ucap Ryu seraya sehabis menukar karcis masuk taman.
                “Wae?”
                “Uri Appa terlalu sibuk dengan pekerjaannya, bahkan Ia jarang meluangkan waktu untuk kami. Kami selalu berpindah-pindah kota setiap 2 tahun sekali, itu karena Mutasi pekerjaan Aboeji.”
                Myungsoo tertawa, “Apa Namjachingu mu tidak pernah mengajakmu kesini? Benar-benar tidak romantis”
                “Eoh? Namjachingu?”
                Myungsoo mengangguk pelan
                “Aku tidak punya, tapi kalau mantan aku punya. Kata-katamu benar, dia memang tidak romantic.”Lanjutnya.
                Myungsoo kembali tertawa
                “Kau ingin naik bianglala?” Tanya Ryu.
                Tanpa respon dari Myungsoo, Ryu langsung saja menarik tangan pria tersebut. Mereka berdua menunggu pada antrian wahana Bianglala, dan akhirnya sampai giliran . Bianglala yang begitu besar itu berputar pada hitungan tidak lebih satu menit. Dari atas wahana tersebut, semua orang dapat memandangi keindahan daerah Hokkaido dari ketinggian 13 meter.
                Ryu tampak meletakkan kedua telapak tangannya pada sisi depan kaca seraya menengok ke bawah, “Baiklah, sayang sekali kita naik wahana ini pada siang hari. Aku pikir ini lebih indah kalau menaikinya pada malam hari.”
                Tidak ada respon, “Ya, Myungsoo,”                                
                Ryu membalikkan badannya, dilihatnya Myungsoo yang tatapannya lemas dan menunduk kebawah membuat Ryu tertawa terbahak-bahak, “Apa Kau takut ketinggian?”
                “Hmm, tidak.”
                Ryu kembali tertawa, “Mianhae, Aku tidak tau kalau Kau phobia pada ketinggian,”
                “Lagipula Kau seperti anak kecil, berapa sih umurmu?” Lanjutnya
                “20.”
                “Mian, aku tidak sopan. Seharusnya Aku memanggilmu Oppa.” Ryu menundukkan kepalanya.
                “Ya, apa Kau bisa mengajakku bicara nanti saja?”

***
                “Arigato.” Ucap Ryu seraya mengambil setangkai gula kapas besar yang baru saja dibelikan oleh Myungsoo.
                “Oppa tidak mau?” Ucap Ryu sambil menyodorkan tangkaian gula tersebut.
                “Ani, Aku tidak suka makanan manis.” Tolak Myungsoo sambil menggelengkan kepala.
                “Baik, Aku akan membuatkanmu gula kapas yang pahit.” 
                Myungsoo tertawa, Ia mengacak rambut gadis dihadapannya. “Kau paling pintar melucu, Hyemi.”
                “Ya! Oppa Aku tidak melucu. Aku serius.”
                Myungsoo terdiam, Ia menatap gadis dihadapannya. Perlahan lahan didekatinya wajah cantik dihadapannya. Nafasnya terengah-engah. Ryu membulatkan kedua matanya.
***
Ryu POV
                Ia mendekatkan wajahnya padaku. Baiklah, Aku rasa wajah kita hanya berjarak satu jengkal saja. Apa yang akan Ia lakukan? Menciumku? Baik, Aku belum siap untuk melakukan ciuman pertama, Aku baru berusia 19 tahun. Apalagi Aku baru saja lulus SMU bahkan orang ini baru  mengenalku dua hari. Apa dia gila?
                “Oppa?”
                Ia tidak menjawabku, baiklah apa yang harus kulakukan? Aku bahkan belum mengenal betul siapa si Myungsoo ini.
                Tanpa pikir-pikir lagi, segera ku injak kakinya. “Ya! Jugulae?! Kau baru mengenalku dua hari sudah berani ingin menciumku? Lagipula kita bukan seorang kekasih dan ini tempat umum. Aigo.”
                Kulihat Ia mengangkat satu kakinya dan merintis kesakitan, “Aishh. Yeoja pabo, siapa yang mau menciummu? Untuk apa mencium gadis yang bukan kekasihku? You’re not my style.”
                “Mwo? I’m not your style? Baik, lihat saja. Aku pastikan sebentar lagi Oppa tertarik padaku.”
                “Kau terlalu percaya diri. Aku hanya ingin bilang kalau hidungmu ada salju.”
                Aku tersentak. Kusentuh ujung hidungku dengan jari telunjukku, sebuah butiran kecil membasahi hidung kecilku. Benar-benar salju. Aku mendongakkan kepala keatas untuk memastikan bahwa itu benar-benar salju. Akhirnya, Salju pertama pada musim dingin tahun ini telah tiba.
                “Woah, Hujan salju.” Ucapku seraya merentangkan kedua tangan.
                Myungsoo tersenyum, “Kau  tidak bawa sarung tangan?”
                “Ani, Aku pikir  Salju akan turun besok.”
                Ia melepaskan sarung tangan sebelah kanan yang Ia pakai. Diraih nya tangan kananku, dipasangkan benda tersebut pada telapak tangan kananku. Tanpa dugaanku, Ia justru mengenggam tangan kiriku dan memasukkannya kedalam saku jacket tebalnya.
                “Kajja, kita pulang”
                Aku menatapnya, “Wae?”
                Ia tersenyum padaku, “Aku tidak ingin seorang Yeoja kedinginan karena aku.”
Ryu POV End
***
                Mondar-mandir berulangkali, itulah yang sedang dilakukan Ryu. Duduk, berdiri, duduk, berdiri. Sedari tadi Ia memikirkan kejadian saat ditaman dengan Myungsoo tadi sore. Rasa gelisah campur senang atas Perlakuan yang diberikan oleh Myungsoo. Senyum manis masih tersirat pada bibir tipisnya. Myungsoo benar-benar dapat membuat hatinya lemas. “Mwo? Apa Aku menyukainya? Andwae, Aku tidak boleh menyukai Namja yang baru kukenal.” Batin Ryu.
                Berulang kali Ia mengeluarkan ponsel dari sakunya, lalu memasukkannya kembali. Sedari tadi Ia mengecheck ponsel untuk menunggu pesan atau panggilan dari Myungsoo. Tapi hasilnya nihil. “Baiklah, Aku terlalu percaya diri. Tidak mungkin Ia menyukaiku.”
                Ryu menghempaskan tubuhnya pada kasur tipis ala Jepang yang tidak terlalu tebal tidak terlalu tipis. Ia menghembuskan nafasnya kesal. Raut wajah senangnya seketika menjadi raut wajah kecewa.
                Drrttt, Ryu tersentak. Ponselnya bergetar dari dalam sakunya. Ia bangkit dari duduknya dan segera merogoh sakunya. Yang Ia harapkan hanya panggilan dari Myungsoo.
                Raut wajahnya mendatar setelah melihat nama panggilan pada layar ponselnya, ingin sekali rasanya Ia mengabaikan panggilan dari orang yang satu ini. Ya, panggilan tersebut bukan dari Myungsoo tetapi dari Ikuya, mantan kekasih Ryu.      
                “Un?” Jawab Ryu.
                “…………….”
                “Naze?(mengapa). Aku tidak ingin bicara denganmu. Apa kau kurang puas menyakiti hatiku?”
                “…………….”
                “Shimekiru, jangan hubungi Aku lagi Ikuya. Aku akan menghapus nomormu. Bai.” Bentak Ryu lalu menutup ponselnya. “Apa dia gila? Beraninya menghubungiku setelah menyakitiku dengan jalan bersama perempuan lain.” Batin Ryu.
               
***
                Ryu mengencangkan ikatan topi balutan kain pada rambutnya. Hari ini Ia mendapatkan shift pagi. Pengaruh cuaca membuat Café ramai dikunjungi. Ryu kewalahan melayani pelanggan Café.
                “Satu Hot Coffee juseyo” Ucap sang pelanggan yang berlogat Korea.
                “Oh. Kau Oppa,” Ucap Ryu sambil mengetik pesanan Myungsoo mesin kasir yang ada di hadapannya.
                “Waeyeo?” Lanjut Ryu.
                “Maksudmu, kau Tanya mengapa Aku datang kesini?” Tanya Myungsoo.
                Ryu mengangguk. “Aigo, apa ini Café milikmu? Apa Aku tidak boleh minum kopi disini?”
                “Oh? Mian. Bukan begitu, Aku hanya bingung. Ini Hot Coffee mu”Ucap Ryu sambil memberikan satu gelas kopi hangat.
                “Kalau begitu apa Kau sudah makan siang?”
                “Hmm. Ajigdo. Aku akan makan siang setelah jam kerjaku selesai sebentar lagi.” Ryu menggeleng.
                “Apa Kau suka Ramen?”
                “Eoh, tentu saja. Itu makanan favouriteku.”
                “Kalau begitu setelah jam kerjamu selesai, temui Aku di kedai ramen seberang. Ottokae? Sampai jumpa Hyemi-ssi” Ucap Myungsoo seraya melambaikan tangannya kemudian beranjak pergi.
                Seusai jam kerja Ryu berakhir, gadis itu menuju ruangan pegawai yang ada dipojok belakang Café, Ia bergegas untuk mengganti pakaian kembali. Setelah itu Ia menuju kedai Ramen yang ada diseberang Café.
                “Annyeong Oppa. Maaf menunggu lama. Hari ini café terlalu ramai.” Ryu membungkukkan badannya kemudian duduk.
                “Jangan sungkan padaku. Pesanlah apa yang kau mau.”
                “Woah, Oppa seperti bisa menebak pikiranku. Aku memang lapar,”
                “Kau ingin pesan apa Oppa?” Lanjut Ryu.
                “Kau pilihkan saja apa yang paling enak disini.”
                “Ne oppa. Jamkkanman-yo” Ryu melambaikan tangannya pada sang pemilik kedai, “Oba-san. Aku pesan dua ramen dan empat katsu. Tolong pisahkan acar dengan katsunya.”
                “Ya anak muda.” Sahut sang pemilik kedai.
                “Empat katsu? Kau makan sebanyak itu?” Tanya Myung heran.
                “Ne. satu untukmu dan tiga untukku. Bukankah Kau bilang Aku boleh memesan apa yang Aku mau.”
                Myungsoo tertawa, “Aku akan bangkrut bila mengajakmu makan setiap hari.”
                “Aish, Aku kan lapar.”                   
                “Haha, ne. Aku bercanda.”
                “Osoreirimasu!” Seorang wanita separuh baya membawakan dua mangkuk ramen panas dan beberapa saat kemudian dibawakannya lagi satu nampan yang berisi empat piring katsu. Ryu, ini kekasih barumu? Kau selalu  membawa kekasihmu kesini. Tampan sekali.” Ucap sang pemilik kedai yang membawakan makanan seraya menatap Myungsoo.
                “Shina Oba-san, dia hanya temanku.” Jawab Ryu sambil menggeleng kepalanya.
                “O shokuji o o tanoshimi kudasai!” Wanita separuh baya tersebut kemudian kembali pada pekerjaannya.
                “Ajumma itu bilang apa?”
                “Ah? Dia pikir Kau itu  namjachingu ku.” Ryu tertawa.
                “Lalu Kau jawab apa?”
                “Oppa temanku.”
                “Kenapa tidak kau katakan iya?”
                Ryu tersentak, “Eh?”
                “Aku bercanda.”
                “Ryu,” Seorang lelaki tiba tiba saja menepuk pundak Ryu. Refleks gadis itu membalikkan badannya. “Ikuya?” ya.. ternyata lelaki itu adalah mantan kekasih ryu.
                “Kebetulan sekali. Ogenki desu ka? Siapa dia? Pelarian barumu?”
                Ryu bangkit dari duduknya. tatapannya sama seperti orang marah, “Hah? Kau bilang pelarian? Apa kau pikir aku ini orang sepertimu?”
                “Haha. Aku tahu kau orang yang seperti apa.”
                 “Pergi dari hadapanku, Aku mau lewat. Dan Jangan pernah berani menghubungiku.”
***
Ryu POV
                “Pergi dari hadapanku, Aku mau lewat. Dan Jangan pernah berani menghubungiku.” Aku memutuskan untuk pulang dari kedai itu. Tak peduli apa yang mau Ia katakan, yang penting tidak melihat dia. Aku berlari sejauh mungkin diatas tebalnya tumpukan salju dan tanpa sadar butiran-butiran air bening mengalir dari kedua mataku.            
                “Hyemi-ssi!” Teriak seseorang yang berada jauh dibelakangku. Aku tidak mengenal betul suara itu, Tapi Aku yakin itu suara Myungsoo. Aku menghentikan langkah kakiku, menghapus air mata yang mengalir dikedua mataku. Kubalikkan badanku.
                “Hyemi?” Ya, benar itu adalah Myungsoo. Ia mendekatiku, “Apa Kau menangis?”
                “Ani.”
                Ia meraih tanganku, “Naik mobilku.”
                Ia menuntunku untuk masuk kedalam mobilnya, beberapa saat kemudian Ia menjalankan mobil tersebut. Aku masih berdiam diri, memikirkan Apa yang baru saja terjadi.
                “Dia siapa mu? Kenapa kau pergi?” Tanya Myungsoo yang sedari tadi mengendalikan setiran mobil.
                “Aku pikir ini bukan urusanmu,”
                “Umm, Mianhae, aku kasar. Aku benar-benar kesal dengan orang itu.” Lanjutku.
                “Biar kutebak, dia Mantan kekasihmu?”
                Aku mengangguk.
                Kejadian yang terjadi lima bulan yang lalu terputar kembali dipikiranku, kejadian dimana Aku seperti orang bodoh.
Flashback
                Berkelahi dalam suatu hubungan itu adalah hal yang wajar. Lagipula ini semua salahku. Aku tidak mengerti bila dia akhir-akhir ini benar-benar sibuk. Jadi, Aku memutuskan untuk minta maaf terlebih dahulu. Aku benar-benar mencintainya meskipun Ia tidak romantis sekalipun.
                Aku berjalan menelusuri berbagai toko makanan ringan pada pusat perbelanjaan. Niatku membelikan Ia pudding sebagai rasa minta maaf. Ikuya benar-benar terobsesi dengan pudding. Aku mendapatkan pudding tersebut setelah mendatangi tiga toko.
                Aku mengeluarkan ponsel dari sakuku, Maksudku mengajak Ia bertemu berhubung hari ini hari libur Ia pasti ada waktu. “Ikuya, Apa kau bisa bertemu denganku sekarang?”
                “Oh Gomen, Aku tidak bisa hari ini. Mungkin lain kali.” Ia menutup panggilan terlebih dahulu.
                Aku merasakan pusing dengan kepalaku. Apa itu alasan karna perkelahian kami kemarin?. Aku berjalan memasuki toko buku pada pusat perbelanjaan itu. Pikirku membaca sedikit dapat membuatku lebih relax.
                Aku berjalan menuju rak yang berisi tumpukan komik, memilih salah satu dari mereka. Aku mencari kursi disekitar itu tapi yang kudapat malah melihat seorang yang asing. Seorang yang baru saja kuhubungi. Aku tidak hanya melihat dia, tapi Aku melihat seorang wanita. Wanita tersebut mengaitkan lengannya pada lengan kekasihku.
                “Ikuya?”
                Ia menoleh padaku, Aku melihat tatapan wajahnya yang seperti orang kaget ketika baru saja bertemu aku. “Kau  bilang kau sibuk? Lalu siapa wanita ini?”
                “Ikuya, siapa dia?” celetuk perempuan itu.
                Ikuya tersenyum padanya, “Haha, Aku tidak ingat siapa dia. Ayo kita pergi”
                Dia bilang tidak ingat siapa diriku? Aku merasa seperti orang bodoh, mencintai orang yang diam-diam menghianatiku dibelakang. Tanpa kusadar air mata mengalir deras dari kedua mataku. Aku menghela nafas.
Flashback end
                “Mian Oppa, Aku jadi curhat padamu,”
                “mengingat hal itu hanya membuat ku sakit hati.” Lanjutku.
                “Sudah kubilang jangan sungkan,”
                Ia menoleh padaku, “Aku tidak menyukai seorang perempuan menangis. Ceritalah padaku bila Kau butuh.”
               
Ryu POV End.
***
                Satu hari menjelang malam natal, malam yang ditunggu-tunggu oleh setiap orang pada bulan Desember. Ryu tengah berjalan pada keramaian Hokkaido. Bulan ini adalah bulan dimana semuanya sibuk hilir mudik melakukan pekerjaan akhir tahun. Dimana hampir toko perbelanjaan di Jepang melakukan diskon natal besar-besaran. Para orang tua menenteng kue tart natal sepulang kerja. Para karyawan dipulangkan lebih cepat sampai hari natal berakhir. Begitu juga dengan Ryu.
                 Yeoja itu menghela nafas, “sekali-sekali Aku membelikan kue dimalam natal maksudku dimalam menjelang natal.” Batinnya
                Ryu memasuki salah satu bakery yang cukup terkenal lezat di Hokkaido, bakery tersebut letaknya tidak jauh dari mansion tempat tinggal Ryu. Harganya pun dapat dijangkau.
                “Irasshaimase.” Sambut sang pegawai.
                “Aku pesan satu kue tart dan satu tiramisu.”
                “1900Yen nona.” Ucap sang pegawai toko tersebut seraya membungkus kotak tiramisu dan kue tart menjadi satu.
                “Oh?” Ryu membuka tasnya, Ia membulatkan matanya. Mengobrak-abrik isi tas tersebut namun Ia tidak menemukan dompet. “Dompetku, apa Aku lupa membawanya?”
                “Nona, apa tidak bisa lebih cepat? Pelanggan lain sedang mengantri.”celetuk sang pegawai.
                “Sumimasen, bolehkah Aku membatalkannya? Aku lupa membawa dompet.”       
                “Biar Aku yang membayarnya.” Ryu menengok ke asal suara, senyum nya mengembang saat tahu siapa yang datang.
                “Ah, Oppa?”
                “bilang kepada pegawai itu, Aku yang membayarnya.”
                “Gomawoyo gomawoyo,” Ucap Ryu seraya keluar dari bakery tersebut. “Kalau tidak ada dirimu, mungkin Aku akan malu setengah mati.”Lanjut Ryu.
                “sudah kubilang jangan sungkan,”
                “Apa Kau mau kuantar?” Tanyanya.
                “Ani, lagipula rumahku kan dekat sini.”
                “Aku marah bila kau menolak tawaranku.”
                “Aish Oppa, apa tidak merepotkanmu?”
            Myungsoo menggeleng, “Gwenchana, Asal kau yang merepotkanku.”
                “Aish, baik lah.”
                Myungsoo membukakan pintu untuk gadis itu, “masuklah tuan putri.”
                Tidak seberapa lama sampailah mereka didepan rumah Ryu (?), “Apa Oppa tidak ingin mampir?” Tanya Ryu.
                “Mungkin lain kali, Aku ingin langsung pulang.”
                “Oh, baiklah. Kalau begitu apa esok Oppa ada acara?”
                “Wae?”
                “besok malam natal, Oppa harus kerumah ku. Ne?”
                Myung tersenyum sambil menganggukan kepala.
***
                Malam Natal adalah malam yang paling ditunggu sebagian penduduk Jepang dalam bulan Desember. Sebagian dari mereka merayakan hal tersebut dengan berkumpul bersama keluarga, yang sebagian lagi mengadakan pesta dengan kawan. Tidak lain dengan Ryu, gadis ini dari tadi mengembangkan senyumannya seraya memotong kue tart yang Ia beli kemarin.
                “Mana temanmu?” Ucap Eomma.
                “mungkin sebentar lagi.”
                Drrtt, ponsel Ryu bergetar dari balik kantong gaunnya. Ia mengeluarkan ponsel, nama Kim Myungsoo tertera pada layar ponsel tersebut, ‘Aku sedang ada didepan rumahmu.”. Ryu melangkah kakinya keluar rumah. “Oh mian Oppa, apa kau menunggu lama? Ayo masuk.”
                Myungsoo terdiam, matanya menatap gadis didepannya. Ryu benar-benar cantik dalam balutan gaun merah muda dengan motif kelopak bunga yang menghiasi setiap bagian gaun tersebut.
                “Ya! Kenapa kau diam?”
                “Eh?”
            “Annyeong Haseyo.” Salam Myungsoo sambil membungkukkan badan 90derajat ketika memasuki rumah Ryu.
                “Ne, duduk lah,” Jawab Appa Ryu.
                “Hyemi, kekasihmu ini orang korea?” lanjutnya.
                “Tampan sekali. Putri eomma pandai mencari pasangan.” Celetuk Eomma.
                “Ya Eunyong, dulu Aku lebih tampan darinya.” Jawab Appa.
                “Aishh, Dia  temanku,” Ucap Ryu.
                “Ah,Oppa. Ini Aboeji, Ini Eomma, dan yang ini Yeoja Dongsaengku, Lee Hyeri. Dia tiga tahun lebih muda dariku.” Lanjutnya.
                Myungsoo kembali menundukkan kepalanya sekilas. “Oh salam kenal. Aku Kim Myungsoo.”

***
                “Jadi Oppa pulang saat tahun baru?” Tanya Ryu.
                Myungsoo mengangguk
                “Apa kau tidak bisa lebih lama lagi disini?”
                Laki-laki itu menggeleng, “Aku harus mengatur LC Group Aboeji sementara.”
                “Eoh? Sudah kuduga Oppa anak seorang chaebol.”
                “Haha tapi Aku akan sering mengunjungimu.” Ucapnya seraya mengacak rambut gadis disampingnya.
                “Oppa, kalau Kau sudah diKorea, hubungi Aku dengan nomor ponsel Korea mu, Ne?”
                “Apa Kau takut Aku melupakanmu?”
                Ryu mengangguk.
                Drrtt, Myungsoo merasakan ponselnya bergetar dari dalam sakunya. “Eoh, sebentar.”
                “Yeoboseyo?”
                “Ne, Kau atur jadwal penerbanganku.”
                “Kamsahamnida kim ajusshi.” Ia menutup ponselnya.
                “Hyemi~ya, Oppa pulang dulu.” Ryu mengangguk.
                Myungsoo merogoh kunci mobilnya. Tapi sesaat kemudian, Ia merasa seseorang mendekap tubuh nya dari belakang.
                “Oppa, saranghaeyo. Dangshineul johahaeyo,” Ucap Ryu.
                Myungsoo diam terpaku, Ryu melepaskan pelukannya. “Mianhae aku lancang, ini hanya perasaanku.”  
***
Myungsoo POV
                Perkataan Hyemi semalam masih terbayang-bayang dibenakku, sejujurnya perasaan itu juga kurasakan. Aku mencoba memfokuskan pandanganku kedepan, sesekali melirik sebuah boneka beruang besar yang ku beli tadi siang. Aku tahu gadis itu menyukai beruang.
                Perlahan kuparkirkan mobilku tidak jauh dari sebuah rumah, rumah gadis itu sebagai tujuanku. Tapi tiba-tiba saja kuundurkan niatku, melihat sebuah pemandangan yang tidak ingin kulihat, melihat gadis yang kucintai berpelukan dengan laki-laki lain.

Myungsoo POV End
***
Seoul, Korea
Ryu POV
                Suasana Seoul sangat berbeda dengan Seoul yang kutemui 11 tahun yang lalu. Suasana musim dingin di Seoul pun berbeda dengan Hokkaido. Tiga bulan yang lalu, Aku memutuskan untuk pindah ke Korea dan menyewa apartemen, Aku mendapatkan pekerjaan menjadi seorang asisten penulis scenario film. Hyeri, Dongsaengku baru saja lulus SMU, Keluarga ku memutuskan untuk pindah keTokyo karena Hyeri ingin melanjutkan ke perguruan tinggi. Uri Appa terpaksa mengundurkan diri dan mencari perkejaan kembali di Tokyo. Penghasilan yang diterima pun tiga kali lebih besar daripada sebelumnya, itulah Appa menyewakan Aku apartmen diSeoul.
                Kim Myungsoo? Laki-laki itu, Aku tidak tahu dimana Ia berada. Ia tidak pernah menghubungiku lagi, menjumpaiku lagi.
                “Ne, Aku akan mengedit bagian depannya.” Aku menutup ponsel.
                Aku menghela nafas, pekerjaan ini benar-benar melelahkan. Bukan tugas yang buat melelahkan, tapi semua ocehan atasan dilimpahkan kepadaku.
                Aku melewati sebuah Café dekat apartmenku, Café yang baru saja dibuka beberapa minggu yang lalu.
                “Satu Mochalatte juseyo.” Ucap ku pada sang pelayan.
                “Ne, tunggu sebentar.”                                        
                Melihat sseorang membuat kopi dihadapanku, seperti melihat aku yang dulu.
                “Nuna, tolong buatkan Aku Cappuchino sekarang.” Seseorang membuyarkan lamunanku, aku menoleh.
                “Ne, tapi setelah nona ini.” Ucap sang pelayan.
                “Aish, buatkan sekarang Atau kusuruh Hyung memecatmu!” Bentak laki-laki ini.
                “Ya anak kecil, apa Kau bisa sopan terhadap orang yang lebih tua darimu?” selakku.
                “Mian, ini café hyungku dan noona tidak usah ikut campur.” Jawabnya.
                Aku membulatkan mataku, wajahnya benar-benar tidak asing bagiku. Wajah yang kucintai.
                “Kim Myungsoo?”
                “Nde?” laki-laki itu kaget.
                “Ani, itu bukan Myungsoo. Laki-laki ini berseragam sekolah.”
                “Ani, Aku Kim Moonsoo noona.” Jawab laki-laki yang bernama moonsoo tersebut.
                “oh mian, Kau mirip temanku.”
                “tapi noona tadi menyebut nama Hyungku, noona siapa?”
                “Nde?”
                “Hmmm, jakkanman. Aku seperti pernah melihat noona,”
                Pelayan tadi memberikan pesananku, segera ku keluarkan uang dari dompet ku dan langsung saja kuberikan kepada si pelayan itu.
                “Oh Aku ingat, Hyung memajang fotomu dikamarnya,” Ucap Myungsoo.
                “Apa noona kekasihnya?” kami berjalan pada suatu meja untuk duduk disana.
                “Ah. Ani. Dia temanku. Kami tidak bertemu dua tahun.” Jawabku.
                “Hyung menjemputku disini, apa noona ingin bertemu dengannya?”
               
                “molla.”
                Tidak lama kemudian seorang laki-laki memasuki café tempat kudatangi. Wajah nya benar-benar tidak asing bagiku. Dia benar-benar Myungsoo.
                “noona, itu Hyungku. Aku mendukungmu.” Bisik Moonsoo.
                “Hyung Aku disini.” Teriak Moonsoo seraya melambaikan tangan kanannya.
                Myungsoo berjalan mendekati kami. Ia terdiam.
                “Kenapa kalian diam? Sudah lama tidak bertemu kan? Dan Aku pulang dulu, Aku tidak ingin menganggu.” Ucap Moonsoo dan beranjak pergi dari café ini.
                “Cshhh.” Desasku.
                Myungsoo duduk dihadapanku. Aku merasa pertemuan kami sangat canggung sama seperti saat kami pertama kali bertemu. Aku berusaha mencoba membuka percakapan, “Itu adikmu? Bawel sekali, berbeda sepertimu.”
                Ia terdiam
                “Lama tidak bertemu.”
                “Hyemi-ya, mianhae,” Ucap Myungsoo.
                “Mianhae Aku tidak pernah menghubungimu.” Lanjutnya.
                Ia meraih tanganku, “Hyemi, saranghae.”
                Kulepaskan tanganku dari tangannya perlahan, “Kau bilang kau mencintaiku? Mengapa kau tak pernah menghubungiku? Apa Kau lupa janjimu? Kau bilang akan menghubungiku. Kau bilang akan kembali ke Jepang. Apa Kau tau tiap malam natal, Aku selalu menunggumu? Natalku benar benar hampa tanpamu” Ucapku.
                “Waktu itu Aku melihatmu dengan ikuya, Aku pikir kau berubah pikiran saat aku tidak menjawabmu. Jadi Aku memutuskan pulang ke Korea lebih awal dan melupakanmu.”
               
Flashback
                Malam itu Ikuya, mantan kekasihku menemuiku.
                “Gomen masalah waktu itu, apa kita bisa mengulang semuanya dari awal?” Ia memelukku.         
                Aku menolak, “Umurku sudah 19 tahun, Aku tidak sebodoh yang kau pikirkan,” Bentakku.
                “Dan kau ingin kita mengulang semuanya dari awal?”
                Ia mengangguk.
                “Hapus nomor ponselku, anggap saja kita tidak pernah kenal.” Ucapku.
Flashback End.
                Aku tertawa, “Aku tau Kau mencintaiku.”
                “Ya, apa Kau paranormal?”
                “Ani,” Kataku sambil menjulurkan lidah.
                “Moonsoo bilang Kau memajang fotoku dikamarmu.” Lanjutku.
                “Anak nakal,”
                “Jadi, apa Kau memaafkanku?” Ia kembali meraih tanganku.
                “Hmmm, tidak.”
                Ia terdiam. “Maksudku, tidak. Aku memaafkanku.” Aku tertawa.
                Ia mengacak rambutku pelan, “Aish, nona kim mengerjaiku.”
                “Nona kim? Margaku lee.”
                “sekarang Kau kekasihku, jadi margamu Lee.”

END