Writer : Sweetchanmies
Cast :
·
Kim Myungsoo (Infinite)
·
Ryu a.k.a Lee Hyemi (OC)
·
Nagashi Ikuya (OC)
Genre : Romance, PG13
Length : Oneshoot
Author’s Note : No
plagiator. Karena baru belajar buat fanfict, jadi mohon kritik sarannya^ ^. penjelasan tentang jepang ga terlalu full disini. nanti bakal dimuat di fanfict selanjutnya.
***
Kim Myungsoo. Nama tersebut
tidak asing lagi di Jajaran Korea Selatan. Ia adalah pewaris pertama dari LC
Group, perusahaan pengiklanan kedua terbesar diKorea Selatan. Walaupun umurnya
yang muda tetapi Ia akan memiliki peranan penting dalam perusahaan tersebut.
Disisi
lain, seorang Gadis cantik berponi rata dengan Crop Tee dan jeans panjang
berjalan melewati sebuah kedai Takoyaki, makanan khas Jepang berbentuk bulat
yang terbuat dari adonan tepung dengan isi gurita didalamnya. Biasanya Takoyaki
dilumuri oleh saus dan potongan rumput laut. Ia dalam perjalanan ke Café tempat
dimana Ia bekerja. Ia berhenti sebentar didepan kedai tersebut. Terlihat ia
sedang memegangi perutnya, ‘Mungkin aku harus membeli satu’ batinnya.
“One.” Yeoja
ini tersentak dan segera menoleh kekanan. Seorang Pria mendahuluinya.
“Hey,
aku memesan dahulu.”
“Sumimasen,
Takoyaki hanya sisa satu kotak.” Ucap sang pemilik kedai seraya membentuk angka
satu pada jarinya.
“Give
it to me and I will pay you 3x.” Pria tersebut mengeluarkan dompet dan
mengambil beberapa lembaran uang yen didalamnya, kemudian pria tersebut pergi
seperti tidak tau apa-apa.
***
Musim dingin akan tiba dalam waktu
kurang lebih empat hari lagi. Beberapa market melakukan diskon besar-besaran. Daun-daun
berguguran sudah mulai berkurang. Seorang gadis berponi rata sedang duduk
menopang dagunya pada meja kasir sebuah Café, tatapannya seperti orang yang
sedang melamun. Hari ini Café benar-benar sepi sampai gadis itu lelah.
“Hey, one please.” Seorang pria membuyarkan
lamunannya.
Ia
tersentak kaget.
Drrrt,
Pria itu mengeluarkan ponsel dari kanton jeansnya. “Yeoboseyo? Nde? Bilang
kepada Aboeji, Aku diJepang untuk satu bulan.” Lalu ia menutup ponselnya.
“Mwo?
Apa kau orang Korea?” Gadis itu kaget.
“Ne,
kau sangat fasih. Apa kau juga orang Korea?”
“Bisa
dibilang begitu. Aku Lee Hyemi, Orang disini memanggilku Ryu.”
“Kim
Myungsoo.”
Ryu
adalah gadis blasteran Korea-Jepang. Aboejinya adalah orang Korea asli,
sedangkan Eommanya adalah orang asli Jepang. Pada saat Ryu genap berumur
sepuluh tahun, mendadak saja Aboejinya
mendapatkan perpindahan pekerjaan ke Jepang sehingga Ryu juga terpaksa untuk
tinggal menetap di Jepang.
“Setelah
ku ingat-ingat, Kau ini yang mengambil takoyakiku kemarin.”
“Ani, Aku
membayar itu. Bahkan membayarnya tiga kali lipat,” Ucap Myungsoo cuek sambil
melihat papan besar yang berisi daftar
menu Café.
Ryu
tampak mengkerutkan mulutnya. “Aku pesan satu MoccaChino.” Ucap Myungsoo.
Ryu
berjalan menuju mesin kopi, mengambil gelas dan mengisi gelas tersebut dengan
Mocca panas. Setelah itu, Ia memberi satu seprotan krimmer dan taburan bubuk
Choco Grand. Lalu Ryu kembali dan memberikan kopi tersebut kepada Myungsoo.
Myungsoo
mengeluarkan ponselnya, “Isi nomor ponselmu.”
“Mwo? Ya,
apa kau tertarik padaku?” Ryu tertawa. Ia mengambil ponsel touchscreen milik
Myungsoo dan mulai mengisi nomor ponselnya sendiri.
Myungsoo mengeluarkan senyum
evilnya, Ia mengeluarkan selembaran uang Yen yang kemudian diberikan kepada
Ryu. “Ambil saja kembaliannya.” Kemudian, Ia pergi meninggalkan Café tersebut.
***
Dua
hari lagi musim dingin akan tiba, Waktu begitu cepat. Malam itu Ryu tengah
membereskan kamar. Akhir-akhir ini
kamarnya begitu kotor, seperti tidak menandakan kamar seorang ‘perempuan’.
Seperti bungkusan cokelat dan cup ramen berserakan, tisue yang habis dipakai,
comic yang telah dibaca, pakaian dalam dan kasur yang berantakan. Ryu mengambil
beberapa comic yang berserakan dan mengumpulkannya diatas sebuah rak kayu jati
yang terlihat antic seperti zaman oda.
Ryu
menghembuskan nafasnya, “Huh, akhirnya selesai juga.”
Drrrrttt,
baru saja ia merebahkan diri pada kasur yang terbentang pada lantai kayu.
Tetapi, sesuatu yang bergetar dibalik kantong celana putihnya. Ia segera
merogoh kantong. sebuah pesan dari seseorang yang tidak dikenal.
‘Apakah ini Hyemi-ssi?’
Ryu tersenyum, Ia mengetahui
bahwa pesan tersebut pasti dari Myungsoo. ‘Ne, nugu?’
‘Ini Aku yang meminta nomor
ponselmu tadi siang. Apakah besok kau sibuk?’
‘Eoh? Tidak. Kebetulan besok Aku
libur bekerja. Ada apa?’
‘Aku tunggu Kau besok di Café
jam 11 siang. Selamat Malam.’
‘Oh? Arraseo. Selamat malam’
“Orang Korea itu mau apa sih.”
Batin Ryu.
***
Udara menjadi lembab membuat
bibir menjadi kering, bagaimana tidak? Hari ini musim sudah memasuki musim
dingin. Hari ini Ryu tidak bekerja di Café, Ia diliburkan selama 3 hari. Karena itu Ia mengiyakan permintaan Myungsoo,
laki-laki yang Ia kenal untuk bertemu di Café tempat Ia bekerja.
“Ini Hot Coffee mu.” Yuko memberikan
segelas kopi panas berukuran medium kepada Ryu, Yeoja itu adalah teman satu
kerja Ryu di Café.
“Arigato.”
“Ryu, Ada apa kemari? Bukankah
kau diliburkan?”
“Aku menunggu seseorang,” Kata
Ryu sambil mengkoyak bungkusan putih berisi butiran gula.
“Yuko, Aku permisi dulu.
Sayonara, ganbatte dalam bekerja.” Lanjutnya.
Ryu berjalan kesebuah meja
didekat dinding Café yang berwarna hijau natural untuk duduk disana seraya
memandang ke arah pintu masuk. Sudah 30 menit dari jam 11, laki-laki tersebut
tidak kunjung datang. ‘‘Menyebalkan, apa dia mengerjaiku?’’ Batinnya.
Tidak lama kemudian, seorang
pria berpakaian tebal dan wajahnya
ditutupi sebuah masker hitam datang menghampiri Ryu.
Ia duduk dan membuka maskernya,
“Mian, apa aku terlambat?” Ucap Laki-laki beraksen Seoul, Korea tersebut tidak
lain adalah Kim Myungsoo.
“Jugulae? Aku hampir gila karena
menunggumu. Baiklah, jadi apa maksudmu menyuruhku kesini? Aku tidak ingin
basa-basi” Gerutu Ryu seraya menghirup kopi panas yang ada dihadapannya.
“Aku bosan. Temani aku
jalan-jalan seharian ini.”
Ryu tersedak, “Maksudmu Kau
ingin berkencan denganku?”
“Ya Pabo, Kau terlalu percaya
diri. Maksudku sebagai TourLeader, Aku tidak begitu mengenal Jepang.” Selak
Myungsoo.
“Baiklah, Karena Aku adalah
Yeoja yang baik hati.”
Mereka berdua melangkah keluar
dari café, “Kita naik mobil?”
“Masuklah, nanti kau tunjukkan
jalannya.”
Mereka memutuskan untuk pergi ke
Oane Park, salah satu taman hiburan yang baru saja dibuka di Hokkaido, Jepang. Dalam
perjalanan mereka saling berbagi cerita hidup mereka masing-masing. Perjalanan
tersebut membuat mereka semakin akrab dan membuang rasa canggung.
“Sebenarnya sudah lama tidak
jalan-jalan seperti ini.” Ucap Ryu seraya sehabis menukar karcis masuk taman.
“Wae?”
“Uri Appa terlalu sibuk dengan
pekerjaannya, bahkan Ia jarang meluangkan waktu untuk kami. Kami selalu
berpindah-pindah kota setiap 2 tahun sekali, itu karena Mutasi pekerjaan
Aboeji.”
Myungsoo tertawa, “Apa
Namjachingu mu tidak pernah mengajakmu kesini? Benar-benar tidak romantis”
“Eoh? Namjachingu?”
Myungsoo mengangguk pelan
“Aku tidak punya, tapi kalau
mantan aku punya. Kata-katamu benar, dia memang tidak romantic.”Lanjutnya.
Myungsoo kembali tertawa
“Kau ingin naik bianglala?”
Tanya Ryu.
Tanpa respon dari Myungsoo, Ryu
langsung saja menarik tangan pria tersebut. Mereka berdua menunggu pada antrian
wahana Bianglala, dan akhirnya sampai giliran . Bianglala yang begitu besar itu
berputar pada hitungan tidak lebih satu menit. Dari atas wahana tersebut, semua
orang dapat memandangi keindahan daerah Hokkaido dari ketinggian 13 meter.
Ryu tampak meletakkan kedua
telapak tangannya pada sisi depan kaca seraya menengok ke bawah, “Baiklah, sayang
sekali kita naik wahana ini pada siang hari. Aku pikir ini lebih indah kalau
menaikinya pada malam hari.”
Tidak ada respon, “Ya,
Myungsoo,”
Ryu membalikkan badannya,
dilihatnya Myungsoo yang tatapannya lemas dan menunduk kebawah membuat Ryu
tertawa terbahak-bahak, “Apa Kau takut ketinggian?”
“Hmm, tidak.”
Ryu kembali tertawa, “Mianhae, Aku
tidak tau kalau Kau phobia pada ketinggian,”
“Lagipula Kau seperti anak
kecil, berapa sih umurmu?” Lanjutnya
“20.”
“Mian, aku tidak sopan.
Seharusnya Aku memanggilmu Oppa.” Ryu menundukkan kepalanya.
“Ya, apa Kau bisa mengajakku
bicara nanti saja?”
***
“Arigato.” Ucap Ryu seraya
mengambil setangkai gula kapas besar yang baru saja dibelikan oleh Myungsoo.
“Oppa tidak mau?” Ucap Ryu
sambil menyodorkan tangkaian gula tersebut.
“Ani, Aku tidak suka makanan
manis.” Tolak Myungsoo sambil menggelengkan kepala.
“Baik, Aku akan membuatkanmu
gula kapas yang pahit.”
Myungsoo tertawa, Ia mengacak
rambut gadis dihadapannya. “Kau paling pintar melucu, Hyemi.”
“Ya! Oppa Aku tidak melucu. Aku
serius.”
Myungsoo terdiam, Ia menatap
gadis dihadapannya. Perlahan lahan didekatinya wajah cantik dihadapannya.
Nafasnya terengah-engah. Ryu membulatkan kedua matanya.
***
Ryu POV
Ia mendekatkan wajahnya padaku.
Baiklah, Aku rasa wajah kita hanya berjarak satu jengkal saja. Apa yang akan Ia
lakukan? Menciumku? Baik, Aku belum siap untuk melakukan ciuman pertama, Aku
baru berusia 19 tahun. Apalagi Aku baru saja lulus SMU bahkan orang ini
baru mengenalku dua hari. Apa dia gila?
“Oppa?”
Ia tidak menjawabku, baiklah apa
yang harus kulakukan? Aku bahkan belum mengenal betul siapa si Myungsoo ini.
Tanpa pikir-pikir lagi, segera
ku injak kakinya. “Ya! Jugulae?! Kau baru mengenalku dua hari sudah berani
ingin menciumku? Lagipula kita bukan seorang kekasih dan ini tempat umum.
Aigo.”
Kulihat Ia mengangkat satu
kakinya dan merintis kesakitan, “Aishh. Yeoja pabo, siapa yang mau menciummu?
Untuk apa mencium gadis yang bukan kekasihku? You’re not my style.”
“Mwo? I’m not your style? Baik,
lihat saja. Aku pastikan sebentar lagi Oppa tertarik padaku.”
“Kau terlalu percaya diri. Aku
hanya ingin bilang kalau hidungmu ada salju.”
Aku tersentak. Kusentuh ujung
hidungku dengan jari telunjukku, sebuah butiran kecil membasahi hidung kecilku.
Benar-benar salju. Aku mendongakkan kepala keatas untuk memastikan bahwa itu
benar-benar salju. Akhirnya, Salju pertama pada musim dingin tahun ini telah
tiba.
“Woah, Hujan salju.” Ucapku
seraya merentangkan kedua tangan.
Myungsoo tersenyum, “Kau tidak bawa sarung tangan?”
“Ani, Aku pikir Salju akan turun besok.”
Ia melepaskan sarung tangan
sebelah kanan yang Ia pakai. Diraih nya tangan kananku, dipasangkan benda
tersebut pada telapak tangan kananku. Tanpa dugaanku, Ia justru mengenggam
tangan kiriku dan memasukkannya kedalam saku jacket tebalnya.
“Kajja, kita pulang”
Aku menatapnya, “Wae?”
Ia tersenyum padaku, “Aku tidak
ingin seorang Yeoja kedinginan karena aku.”
Ryu POV End
***
Mondar-mandir berulangkali,
itulah yang sedang dilakukan Ryu. Duduk, berdiri, duduk, berdiri. Sedari tadi
Ia memikirkan kejadian saat ditaman dengan Myungsoo tadi sore. Rasa gelisah
campur senang atas Perlakuan yang diberikan oleh Myungsoo. Senyum manis masih
tersirat pada bibir tipisnya. Myungsoo benar-benar dapat membuat hatinya lemas.
“Mwo? Apa Aku menyukainya? Andwae, Aku tidak boleh menyukai Namja yang baru
kukenal.” Batin Ryu.
Berulang kali Ia mengeluarkan
ponsel dari sakunya, lalu memasukkannya kembali. Sedari tadi Ia mengecheck
ponsel untuk menunggu pesan atau panggilan dari Myungsoo. Tapi hasilnya nihil.
“Baiklah, Aku terlalu percaya diri. Tidak mungkin Ia menyukaiku.”
Ryu menghempaskan tubuhnya pada
kasur tipis ala Jepang yang tidak terlalu tebal tidak terlalu tipis. Ia
menghembuskan nafasnya kesal. Raut wajah senangnya seketika menjadi raut wajah
kecewa.
Drrttt, Ryu tersentak. Ponselnya
bergetar dari dalam sakunya. Ia bangkit dari duduknya dan segera merogoh
sakunya. Yang Ia harapkan hanya panggilan dari Myungsoo.
Raut wajahnya mendatar setelah
melihat nama panggilan pada layar ponselnya, ingin sekali rasanya Ia
mengabaikan panggilan dari orang yang satu ini. Ya, panggilan tersebut bukan
dari Myungsoo tetapi dari Ikuya, mantan kekasih Ryu.
“Un?” Jawab Ryu.
“…………….”
“Naze?(mengapa). Aku tidak ingin
bicara denganmu. Apa kau kurang puas menyakiti hatiku?”
“…………….”
“Shimekiru, jangan hubungi Aku
lagi Ikuya. Aku akan menghapus nomormu. Bai.” Bentak Ryu lalu menutup
ponselnya. “Apa dia gila? Beraninya menghubungiku setelah menyakitiku dengan
jalan bersama perempuan lain.” Batin Ryu.
***
Ryu mengencangkan ikatan topi
balutan kain pada rambutnya. Hari ini Ia mendapatkan shift pagi. Pengaruh cuaca
membuat Café ramai dikunjungi. Ryu kewalahan melayani pelanggan Café.
“Satu Hot Coffee juseyo” Ucap
sang pelanggan yang berlogat Korea.
“Oh. Kau Oppa,” Ucap Ryu sambil
mengetik pesanan Myungsoo mesin kasir yang ada di hadapannya.
“Waeyeo?” Lanjut Ryu.
“Maksudmu, kau Tanya mengapa Aku
datang kesini?” Tanya Myungsoo.
Ryu mengangguk. “Aigo, apa ini
Café milikmu? Apa Aku tidak boleh minum kopi disini?”
“Oh? Mian. Bukan begitu, Aku
hanya bingung. Ini Hot Coffee mu”Ucap Ryu sambil memberikan satu gelas kopi
hangat.
“Kalau begitu apa Kau sudah
makan siang?”
“Hmm. Ajigdo. Aku akan makan
siang setelah jam kerjaku selesai sebentar lagi.” Ryu menggeleng.
“Apa Kau suka Ramen?”
“Eoh, tentu saja. Itu makanan
favouriteku.”
“Kalau begitu setelah jam
kerjamu selesai, temui Aku di kedai ramen seberang. Ottokae? Sampai jumpa Hyemi-ssi”
Ucap Myungsoo seraya melambaikan tangannya kemudian beranjak pergi.
Seusai jam kerja Ryu berakhir,
gadis itu menuju ruangan pegawai yang ada dipojok belakang Café, Ia bergegas
untuk mengganti pakaian kembali. Setelah itu Ia menuju kedai Ramen yang ada
diseberang Café.
“Annyeong Oppa. Maaf menunggu
lama. Hari ini café terlalu ramai.” Ryu membungkukkan badannya kemudian duduk.
“Jangan sungkan padaku. Pesanlah apa yang kau mau.”
“Woah, Oppa seperti bisa menebak pikiranku. Aku
memang lapar,”
“Kau ingin pesan apa Oppa?” Lanjut Ryu.
“Kau pilihkan saja apa yang paling enak disini.”
“Ne oppa. Jamkkanman-yo” Ryu
melambaikan tangannya pada sang pemilik kedai, “Oba-san. Aku pesan dua ramen
dan empat katsu. Tolong pisahkan acar dengan katsunya.”
“Ya anak muda.” Sahut sang
pemilik kedai.
“Empat katsu? Kau makan sebanyak
itu?” Tanya Myung heran.
“Ne. satu untukmu dan tiga
untukku. Bukankah Kau bilang Aku boleh memesan apa yang Aku mau.”
Myungsoo tertawa, “Aku akan
bangkrut bila mengajakmu makan setiap hari.”
“Aish, Aku kan lapar.”
“Haha, ne. Aku bercanda.”
“Osoreirimasu!” Seorang wanita separuh baya
membawakan dua mangkuk ramen panas dan beberapa saat kemudian dibawakannya lagi
satu nampan yang berisi empat piring katsu. Ryu, ini kekasih barumu? Kau
selalu membawa kekasihmu kesini. Tampan
sekali.” Ucap sang pemilik kedai yang membawakan makanan seraya menatap
Myungsoo.
“Shina Oba-san, dia hanya temanku.” Jawab Ryu sambil
menggeleng kepalanya.
“O shokuji o o tanoshimi kudasai!” Wanita separuh baya
tersebut kemudian kembali pada pekerjaannya.
“Ajumma itu bilang apa?”
“Ah? Dia pikir Kau itu namjachingu ku.” Ryu tertawa.
“Lalu Kau jawab apa?”
“Oppa temanku.”
“Kenapa tidak kau katakan iya?”
Ryu tersentak, “Eh?”
“Aku bercanda.”
“Ryu,” Seorang lelaki tiba tiba saja menepuk pundak
Ryu. Refleks gadis itu membalikkan badannya. “Ikuya?” ya.. ternyata lelaki itu
adalah mantan kekasih ryu.
“Kebetulan sekali. Ogenki desu ka? Siapa dia?
Pelarian barumu?”
Ryu bangkit dari duduknya. tatapannya sama seperti
orang marah, “Hah? Kau bilang pelarian? Apa kau pikir aku ini orang sepertimu?”
“Haha. Aku tahu kau orang yang seperti apa.”
“Pergi dari hadapanku, Aku mau lewat. Dan
Jangan pernah berani menghubungiku.”
***
Ryu POV
“Pergi dari hadapanku, Aku mau
lewat. Dan Jangan pernah berani menghubungiku.” Aku memutuskan untuk pulang
dari kedai itu. Tak peduli apa yang mau Ia katakan, yang penting tidak melihat
dia. Aku berlari sejauh mungkin diatas tebalnya tumpukan salju dan tanpa sadar
butiran-butiran air bening mengalir dari kedua mataku.
“Hyemi-ssi!” Teriak seseorang
yang berada jauh dibelakangku. Aku tidak mengenal betul suara itu, Tapi Aku
yakin itu suara Myungsoo. Aku menghentikan langkah kakiku, menghapus air mata
yang mengalir dikedua mataku. Kubalikkan badanku.
“Hyemi?” Ya, benar itu adalah
Myungsoo. Ia mendekatiku, “Apa Kau menangis?”
“Ani.”
Ia meraih tanganku, “Naik
mobilku.”
Ia menuntunku untuk masuk
kedalam mobilnya, beberapa saat kemudian Ia menjalankan mobil tersebut. Aku
masih berdiam diri, memikirkan Apa yang baru saja terjadi.
“Dia siapa mu? Kenapa kau
pergi?” Tanya Myungsoo yang sedari tadi mengendalikan setiran mobil.
“Aku pikir ini bukan urusanmu,”
“Umm, Mianhae, aku kasar. Aku
benar-benar kesal dengan orang itu.” Lanjutku.
“Biar kutebak, dia Mantan
kekasihmu?”
Aku mengangguk.
Kejadian yang terjadi lima bulan
yang lalu terputar kembali dipikiranku, kejadian dimana Aku seperti orang
bodoh.
Flashback
Berkelahi dalam suatu hubungan
itu adalah hal yang wajar. Lagipula ini semua salahku. Aku tidak mengerti bila
dia akhir-akhir ini benar-benar sibuk. Jadi, Aku memutuskan untuk minta maaf
terlebih dahulu. Aku benar-benar mencintainya meskipun Ia tidak romantis
sekalipun.
Aku berjalan menelusuri berbagai
toko makanan ringan pada pusat perbelanjaan. Niatku membelikan Ia pudding
sebagai rasa minta maaf. Ikuya benar-benar terobsesi dengan pudding. Aku
mendapatkan pudding tersebut setelah mendatangi tiga toko.
Aku mengeluarkan ponsel dari
sakuku, Maksudku mengajak Ia bertemu berhubung hari ini hari libur Ia pasti ada
waktu. “Ikuya, Apa kau bisa bertemu denganku sekarang?”
“Oh Gomen, Aku tidak bisa hari
ini. Mungkin lain kali.” Ia menutup panggilan terlebih dahulu.
Aku merasakan pusing dengan
kepalaku. Apa itu alasan karna perkelahian kami kemarin?. Aku berjalan memasuki
toko buku pada pusat perbelanjaan itu. Pikirku membaca sedikit dapat membuatku
lebih relax.
Aku berjalan menuju rak yang
berisi tumpukan komik, memilih salah satu dari mereka. Aku mencari kursi
disekitar itu tapi yang kudapat malah melihat seorang yang asing. Seorang yang
baru saja kuhubungi. Aku tidak hanya melihat dia, tapi Aku melihat seorang
wanita. Wanita tersebut mengaitkan lengannya pada lengan kekasihku.
“Ikuya?”
Ia menoleh padaku, Aku melihat
tatapan wajahnya yang seperti orang kaget ketika baru saja bertemu aku.
“Kau bilang kau sibuk? Lalu siapa wanita
ini?”
“Ikuya, siapa dia?” celetuk
perempuan itu.
Ikuya tersenyum padanya, “Haha,
Aku tidak ingat siapa dia. Ayo kita pergi”
Dia bilang tidak ingat siapa
diriku? Aku merasa seperti orang bodoh, mencintai orang yang diam-diam
menghianatiku dibelakang. Tanpa kusadar air mata mengalir deras dari kedua
mataku. Aku menghela nafas.
Flashback end
“Mian Oppa, Aku jadi curhat
padamu,”
“mengingat hal itu hanya membuat
ku sakit hati.” Lanjutku.
“Sudah kubilang jangan sungkan,”
Ia menoleh padaku, “Aku tidak
menyukai seorang perempuan menangis. Ceritalah padaku bila Kau butuh.”
Ryu POV End.
***
Satu hari menjelang malam natal,
malam yang ditunggu-tunggu oleh setiap orang pada bulan Desember. Ryu tengah
berjalan pada keramaian Hokkaido. Bulan ini adalah bulan dimana semuanya sibuk
hilir mudik melakukan pekerjaan akhir tahun. Dimana hampir toko perbelanjaan di
Jepang melakukan diskon natal besar-besaran. Para orang tua menenteng kue tart
natal sepulang kerja. Para karyawan dipulangkan lebih cepat sampai hari natal
berakhir. Begitu juga dengan Ryu.
Yeoja itu menghela nafas, “sekali-sekali Aku
membelikan kue dimalam natal maksudku dimalam menjelang natal.” Batinnya
Ryu memasuki salah satu bakery
yang cukup terkenal lezat di Hokkaido, bakery tersebut letaknya tidak jauh dari
mansion tempat tinggal Ryu. Harganya pun dapat dijangkau.
“Irasshaimase.” Sambut sang
pegawai.
“Aku pesan satu kue tart dan
satu tiramisu.”
“1900Yen nona.” Ucap sang
pegawai toko tersebut seraya membungkus kotak tiramisu dan kue tart menjadi
satu.
“Oh?” Ryu membuka tasnya, Ia
membulatkan matanya. Mengobrak-abrik isi tas tersebut namun Ia tidak menemukan
dompet. “Dompetku, apa Aku lupa membawanya?”
“Nona, apa tidak bisa lebih
cepat? Pelanggan lain sedang mengantri.”celetuk sang pegawai.
“Sumimasen,
bolehkah Aku membatalkannya? Aku lupa membawa dompet.”
“Biar Aku yang membayarnya.” Ryu
menengok ke asal suara, senyum nya mengembang saat tahu siapa yang datang.
“Ah, Oppa?”
“bilang kepada pegawai itu, Aku
yang membayarnya.”
“Gomawoyo gomawoyo,” Ucap Ryu
seraya keluar dari bakery tersebut. “Kalau tidak ada dirimu, mungkin Aku akan
malu setengah mati.”Lanjut Ryu.
“sudah kubilang jangan sungkan,”
“Apa Kau mau kuantar?” Tanyanya.
“Ani, lagipula rumahku kan dekat
sini.”
“Aku marah bila kau menolak
tawaranku.”
“Aish Oppa, apa tidak
merepotkanmu?”
Myungsoo
menggeleng, “Gwenchana, Asal kau yang merepotkanku.”
“Aish, baik lah.”
Myungsoo membukakan pintu untuk
gadis itu, “masuklah tuan putri.”
Tidak seberapa lama sampailah
mereka didepan rumah Ryu (?), “Apa Oppa tidak ingin mampir?” Tanya Ryu.
“Mungkin lain kali, Aku ingin
langsung pulang.”
“Oh, baiklah. Kalau begitu apa
esok Oppa ada acara?”
“Wae?”
“besok malam natal, Oppa harus
kerumah ku. Ne?”
Myung tersenyum sambil
menganggukan kepala.
***
Malam Natal adalah malam yang
paling ditunggu sebagian penduduk Jepang dalam bulan Desember. Sebagian dari
mereka merayakan hal tersebut dengan berkumpul bersama keluarga, yang sebagian
lagi mengadakan pesta dengan kawan. Tidak lain dengan Ryu, gadis ini dari tadi
mengembangkan senyumannya seraya memotong kue tart yang Ia beli kemarin.
“Mana temanmu?” Ucap Eomma.
“mungkin sebentar lagi.”
Drrtt, ponsel Ryu bergetar dari
balik kantong gaunnya. Ia mengeluarkan ponsel, nama Kim Myungsoo tertera pada
layar ponsel tersebut, ‘Aku sedang ada didepan rumahmu.”. Ryu melangkah kakinya
keluar rumah. “Oh mian Oppa, apa kau menunggu lama? Ayo masuk.”
Myungsoo terdiam, matanya
menatap gadis didepannya. Ryu benar-benar cantik dalam balutan gaun merah muda
dengan motif kelopak bunga yang menghiasi setiap bagian gaun tersebut.
“Ya! Kenapa kau diam?”
“Eh?”
“Annyeong Haseyo.” Salam
Myungsoo sambil membungkukkan badan 90derajat ketika memasuki rumah Ryu.
“Ne,
duduk lah,” Jawab Appa Ryu.
“Hyemi,
kekasihmu ini orang korea?” lanjutnya.
“Tampan
sekali. Putri eomma pandai mencari pasangan.” Celetuk Eomma.
“Ya
Eunyong, dulu Aku lebih tampan darinya.” Jawab Appa.
“Aishh,
Dia temanku,” Ucap Ryu.
“Ah,Oppa.
Ini Aboeji, Ini Eomma, dan yang ini Yeoja Dongsaengku, Lee Hyeri. Dia tiga
tahun lebih muda dariku.” Lanjutnya.
Myungsoo
kembali menundukkan kepalanya sekilas. “Oh salam kenal. Aku Kim Myungsoo.”
***
“Jadi
Oppa pulang saat tahun baru?” Tanya Ryu.
Myungsoo
mengangguk
“Apa
kau tidak bisa lebih lama lagi disini?”
Laki-laki
itu menggeleng, “Aku harus mengatur LC Group Aboeji sementara.”
“Eoh?
Sudah kuduga Oppa anak seorang chaebol.”
“Haha
tapi Aku akan sering mengunjungimu.” Ucapnya seraya mengacak rambut gadis
disampingnya.
“Oppa,
kalau Kau sudah diKorea, hubungi Aku dengan nomor ponsel Korea mu, Ne?”
“Apa
Kau takut Aku melupakanmu?”
Ryu
mengangguk.
Drrtt, Myungsoo merasakan ponselnya bergetar dari
dalam sakunya. “Eoh, sebentar.”
“Yeoboseyo?”
“Ne, Kau atur jadwal penerbanganku.”
“Kamsahamnida kim ajusshi.” Ia menutup ponselnya.
“Hyemi~ya, Oppa pulang dulu.” Ryu mengangguk.
Myungsoo merogoh kunci mobilnya. Tapi sesaat
kemudian, Ia merasa seseorang mendekap tubuh nya dari belakang.
“Oppa, saranghaeyo. Dangshineul johahaeyo,” Ucap Ryu.
Myungsoo diam terpaku, Ryu melepaskan pelukannya.
“Mianhae aku lancang, ini hanya perasaanku.”
***
Myungsoo POV
Perkataan Hyemi semalam masih terbayang-bayang
dibenakku, sejujurnya perasaan itu juga kurasakan. Aku mencoba memfokuskan
pandanganku kedepan, sesekali melirik sebuah boneka beruang besar yang ku beli
tadi siang. Aku tahu gadis itu menyukai beruang.
Perlahan kuparkirkan mobilku tidak jauh dari sebuah
rumah, rumah gadis itu sebagai tujuanku. Tapi tiba-tiba saja kuundurkan niatku,
melihat sebuah pemandangan yang tidak ingin kulihat, melihat gadis yang
kucintai berpelukan dengan laki-laki lain.
Myungsoo POV End
***
Seoul, Korea
Ryu POV
Suasana Seoul sangat berbeda dengan Seoul yang
kutemui 11 tahun yang lalu. Suasana musim dingin di Seoul pun berbeda dengan
Hokkaido. Tiga bulan yang lalu, Aku memutuskan untuk pindah ke Korea dan
menyewa apartemen, Aku mendapatkan pekerjaan menjadi seorang asisten penulis
scenario film. Hyeri, Dongsaengku baru saja lulus SMU, Keluarga ku memutuskan
untuk pindah keTokyo karena Hyeri ingin melanjutkan ke perguruan tinggi. Uri
Appa terpaksa mengundurkan diri dan mencari perkejaan kembali di Tokyo.
Penghasilan yang diterima pun tiga kali lebih besar daripada sebelumnya, itulah
Appa menyewakan Aku apartmen diSeoul.
Kim Myungsoo? Laki-laki itu, Aku tidak tahu dimana Ia
berada. Ia tidak pernah menghubungiku lagi, menjumpaiku lagi.
“Ne, Aku akan mengedit bagian depannya.” Aku menutup
ponsel.
Aku menghela nafas, pekerjaan ini benar-benar
melelahkan. Bukan tugas yang buat melelahkan, tapi semua ocehan atasan
dilimpahkan kepadaku.
Aku melewati sebuah Café dekat apartmenku, Café yang
baru saja dibuka beberapa minggu yang lalu.
“Satu Mochalatte juseyo.” Ucap ku pada sang pelayan.
“Ne, tunggu sebentar.”
Melihat sseorang membuat kopi dihadapanku, seperti
melihat aku yang dulu.
“Nuna, tolong buatkan Aku Cappuchino sekarang.”
Seseorang membuyarkan lamunanku, aku menoleh.
“Ne, tapi setelah nona ini.” Ucap sang pelayan.
“Aish, buatkan sekarang Atau kusuruh Hyung
memecatmu!” Bentak laki-laki ini.
“Ya anak kecil, apa Kau bisa sopan terhadap orang
yang lebih tua darimu?” selakku.
“Mian, ini café hyungku dan noona tidak usah ikut
campur.” Jawabnya.
Aku membulatkan mataku, wajahnya benar-benar tidak
asing bagiku. Wajah yang kucintai.
“Kim Myungsoo?”
“Nde?” laki-laki itu kaget.
“Ani, itu bukan Myungsoo. Laki-laki ini berseragam
sekolah.”
“Ani, Aku Kim Moonsoo noona.” Jawab laki-laki yang
bernama moonsoo tersebut.
“oh mian, Kau mirip temanku.”
“tapi noona tadi menyebut nama Hyungku, noona siapa?”
“Nde?”
“Hmmm, jakkanman. Aku seperti pernah melihat noona,”
Pelayan tadi memberikan pesananku, segera ku
keluarkan uang dari dompet ku dan langsung saja kuberikan kepada si pelayan
itu.
“Oh Aku ingat, Hyung memajang fotomu dikamarnya,”
Ucap Myungsoo.
“Apa noona kekasihnya?” kami berjalan pada suatu meja
untuk duduk disana.
“Ah. Ani. Dia temanku. Kami tidak bertemu dua tahun.”
Jawabku.
“Hyung menjemputku disini, apa noona ingin bertemu
dengannya?”
“molla.”
Tidak lama kemudian seorang laki-laki memasuki café
tempat kudatangi. Wajah nya benar-benar tidak asing bagiku. Dia benar-benar
Myungsoo.
“noona, itu Hyungku. Aku mendukungmu.” Bisik Moonsoo.
“Hyung Aku disini.” Teriak Moonsoo seraya melambaikan
tangan kanannya.
Myungsoo berjalan mendekati kami. Ia terdiam.
“Kenapa kalian diam? Sudah lama tidak bertemu kan?
Dan Aku pulang dulu, Aku tidak ingin menganggu.” Ucap Moonsoo dan beranjak
pergi dari café ini.
“Cshhh.” Desasku.
Myungsoo duduk dihadapanku. Aku merasa pertemuan kami
sangat canggung sama seperti saat kami pertama kali bertemu. Aku berusaha
mencoba membuka percakapan, “Itu adikmu? Bawel sekali, berbeda sepertimu.”
Ia terdiam
“Lama tidak bertemu.”
“Hyemi-ya, mianhae,” Ucap Myungsoo.
“Mianhae Aku tidak pernah menghubungimu.” Lanjutnya.
Ia meraih tanganku, “Hyemi, saranghae.”
Kulepaskan tanganku dari tangannya perlahan, “Kau
bilang kau mencintaiku? Mengapa kau tak pernah menghubungiku? Apa Kau lupa
janjimu? Kau bilang akan menghubungiku. Kau bilang akan kembali ke Jepang. Apa
Kau tau tiap malam natal, Aku selalu menunggumu? Natalku benar benar hampa
tanpamu” Ucapku.
“Waktu itu Aku melihatmu dengan ikuya, Aku pikir kau
berubah pikiran saat aku tidak menjawabmu. Jadi Aku memutuskan pulang ke Korea
lebih awal dan melupakanmu.”
Flashback
Malam itu Ikuya, mantan kekasihku menemuiku.
“Gomen masalah waktu itu, apa kita bisa mengulang
semuanya dari awal?” Ia memelukku.
Aku menolak, “Umurku sudah 19 tahun, Aku tidak
sebodoh yang kau pikirkan,” Bentakku.
“Dan kau ingin kita mengulang semuanya dari awal?”
Ia mengangguk.
“Hapus nomor ponselku, anggap saja kita tidak pernah
kenal.” Ucapku.
Flashback End.
Aku tertawa, “Aku tau Kau mencintaiku.”
“Ya, apa Kau paranormal?”
“Ani,” Kataku sambil menjulurkan lidah.
“Moonsoo bilang Kau memajang fotoku dikamarmu.”
Lanjutku.
“Anak nakal,”
“Jadi, apa Kau memaafkanku?” Ia kembali meraih
tanganku.
“Hmmm, tidak.”
Ia terdiam. “Maksudku, tidak.
Aku memaafkanku.” Aku tertawa.
Ia mengacak rambutku pelan,
“Aish, nona kim mengerjaiku.”
“Nona kim? Margaku lee.”
“sekarang Kau kekasihku, jadi
margamu Lee.”
END