Kamis, 23 Januari 2014

[Fanfiction] Heaven

Heaven

Cast           :
-       - Shin Hyejeong
-       - Yo Seok
Writer        : sweetchanmies
Genre         : Sad
***
Hyejeong POV
                Masa depan adalah bagian dari takdir, dan takdir adalah kenyataan. Takdir tidak dapat diubah, tapi masa depan dapat diubah. Puluhan memori kembali terkenang didalam pikiranku. Rangkaian kisah menyenangkan, rangkaian kisah menyedihkan.
                “Gilin Oppa.” Panggilku kepada kakak laki-lakiku.
                Ia mengunci bibirku dengan jari telunjuknya, “berhenti memanggil Oppa gilin, namaku Yo Seok.”
                “Arraseo, tapi Oppa memang tinggi seperti gilin (jerapah).” Ledekku seraya menjulurkan lidah.
                Takdir, Aku hanya ingin semuanya berakhir indah. Tetapi, kenyataan berbeda. Mereka meninggalkanku. Oppa pergi meninggalkanku ketempat yang paling jauh, tempat yang tidak bisa kudatangi sekarang. Kembali Aku memikirkan memori yang tak akan kulupakan.
                Bunyi keras mengagetkan kedua telingaku. Aku membalikan badanku, Lututku lemas melihat apa yang dihadapanku. Air mataku mengalir membasahi kedua pipiku. Darah segar mengalir dari tubuh orang yang benar-benar kusayang. Oppa, kakak laki-laki satu-satunya yang kumiliki bergeletak pada badan aspal jalan. Tubuhnya penuh dengan darah. Aku berteriak, “Ini semua salahku, ini semua salahku.”
                Andai Aku bisa mengendalikan waktu, mengapa tidak Aku saja yang pergi?
                “Aku mencintaimu, saranghaeyo shin hyejeong-ah”
                Aku melepaskan pelukannya, “itu tentu, karna kita kakak beradik. Tidak mungkin Oppa membenciku.”
                Oppa mengeluarkan sesuatu dari saku mantelnya, sebuah kotak kecil berwarna merah muda yang dihiasi ikatan pita emas. “Maksudku lebih dari itu, Aku ingin Kau menjadi Yeojachinguku.”
                “Mwo? Tapi Kau adalah kakakku?”
                Ia membuka kotak merah muda tersebut, diambilnya cincin berkilau yang ada dalam kotak kecil itu. “Aku tahu, Kau mencintaiku.”
                “Aku memang mencintaimu Oppa, tapi sebagai kakak kandungku.”
                “Apa Kau pikir kita sedarah?”
                “Oppa, Kau tidak pernah bicara sekasar itu denganku.”
                “Karena Aku bukan kakakmu!”
                PLAK, Aku mendaratkan tamparan pada wajahnya. “Dengar ya. sampai Aku mati Kau adalah Oppaku. Kau tetap kakakku.”
                Aku berlari secepat mungkin, berusaha meninggalkan Oppa. “Shin Hyejeong!” kudengar teriakkannya, Aku mencoba untuk meliriknya. Kulihat Ia mengejarku. “Shin Hyejeong, tunggu.” Kudengar kembali teriakannya. Sampai sesuatu yang aneh terdengar ditelingaku.
                Tak kudengar lagi Oppa berteriak memanggilku. Yang kudengar hanyalah suara hantaman keras yang membuatku tersentak. Aku menghentikan langkah kakiku dan mencoba melihat apa yang terjadi dibelakangku. “Oppa?” Aku berlari, Ia tidak sadarkan diri. Darah segar mengalir deras dari tubuhnya. Sebuah bis menghantamnya. “Oppa jangan pergi.”
                12 Tahun Yang Lalu
                Usiaku masih tujuh tahun. Saat itu Aku benar-benar polos. Aku memiliki kakak kandung, namanya Shin Yo Seok. Ia tua dariku empat tahun. Aku sangat menyayanginya, Ia adalah kakak terbaik yang kupunya. Waktu nilai tugasku jelek, Oppa mengajariku hingga Aku tersenyum kembali. Waktu Aku terjatuh dari sepeda, Oppa yang membalut lukaku. Dia menghiburku, “Ujima, Hyejeong jika menangis seperti badut”.
Yo Seok Oppa mengenalkanku pada tetangga baru kami. Usianya berbeda tiga tahun lebih tua dariku. Ia juga baik seperti Oppa. Aku memanggilnya ‘Gilin’ karena Ia tinggi seperti jerapah, tingginya sangat jauh berbeda dariku. Ia juga memiliki nama yang sama seperti Oppa kandungku. Ia bernama Kim Yo Seok, hanya marga yang membedakan nama mereka. Kami selalu bersama.
Suatu hari orang tua Kim Yo Seok Oppa meninggal karena kecelakaan. Appa dan Eomma mengijinkannya untuk tinggal dirumah kami. Karena Yo Seok Oppa yatim piatu. Ia tidak memiliki saudara lagi disini. Appa dan Eomma menyekolahkannya di tempat dimana Aku dan Oppa bersekolah. Ia adalah anak yang pintar, selalu mendapatkan peringkat satu. Tidak sepertiku.
                Tidak lama setelah itu. Oppaku Shin Yo Seok meninggalkan kami. Oppa meninggal karena penyakit Asma. Waktu itu Aku benar-benar tidak tahu apa-apa, “Oppa, ayo bangun. Oppa janji ingin main denganku kan?”. Eomma bilang Oppa tidak akan bangun lagi, Ia ingin pergi ketempat yang sangat jauh.
                Semenjak itu, Aku selalu menganggap Gilin Oppa sebagai kakak kandungku keduaku. Aku kembali menemukan sosok orang yang sangat menghiburku. “Uljima, kata Oppamu. Aku akan menjagamu selalu.”
 ***
                Aku menanamkan pohon maple kecil pada tanah pemakaman Oppa. Disebelahnya terdapat pohon maple besar yang sudah tertanam dua belas tahun lampau. Kami memakamkan Oppa tepat disamping makam kakak kandungku.
                Aku melipat keduatelapak tanganku dan menutup kedua mataku. “Oppa, maafkan Aku.”
                Aku melangkahkan kakiku pada pohon maple besar yang ada disamping makam Yo seok Oppa. “Oppa, sudah lama kita tak bermain bersama. Tapi Aku Tahu, Oppa selalu ada disampingku. Aku tidak akan melupakan kalian. Kalau Aku menikah, kalian harus datang. Ne?” Aku kembali melipat kedua telapak tanganku.
                Inilah kenyataan. Kenyataan yang harus kuhadapi. Kenyataan yang tak pernah bisa kuhindari, Aku tahu kalian mengawasiku diatas sana.
***
                “Hyejeong-ssi. Apa yang membuatmu ingin menuangkan kisahnyatamu dalam novelmu kali ini? Novelmu langsung terjual habis dalam ribuan copy saat baru pertama kali di release.” Tanya seorang wartawan sambil melambaikan tangannya.
                “Ya, Kisah itu benar-benar terjadi padaku lima tahun yang lalu. Kakak angkatku meninggal saat Aku berusia Sembilan belas tahun. Sementara kakak kandungku meninggal tujuh belas tahun yang lalu. Aku selalu merapikan makam mereka setiap hari. Mereka adalah penyemangat dan inspirasiku.” Kataku sambil tersenyum.
Aku akan menemukan kalian, walau harus seribu tahun kulalui…


END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar