Heaven
Cast :
- - Shin
Hyejeong
- - Yo
Seok
Writer : sweetchanmies
Genre : Sad
***
Hyejeong POV
Masa
depan adalah bagian dari takdir, dan takdir adalah kenyataan. Takdir tidak
dapat diubah, tapi masa depan dapat diubah. Puluhan memori kembali terkenang
didalam pikiranku. Rangkaian kisah menyenangkan, rangkaian kisah menyedihkan.
“Gilin
Oppa.” Panggilku kepada kakak laki-lakiku.
Ia mengunci
bibirku dengan jari telunjuknya, “berhenti memanggil Oppa gilin, namaku Yo
Seok.”
“Arraseo,
tapi Oppa memang tinggi seperti gilin (jerapah).” Ledekku seraya menjulurkan
lidah.
Takdir,
Aku hanya ingin semuanya berakhir indah. Tetapi, kenyataan berbeda. Mereka
meninggalkanku. Oppa pergi meninggalkanku ketempat yang paling jauh, tempat
yang tidak bisa kudatangi sekarang. Kembali Aku memikirkan memori yang tak akan
kulupakan.
Bunyi
keras mengagetkan kedua telingaku. Aku membalikan badanku, Lututku lemas
melihat apa yang dihadapanku. Air mataku mengalir membasahi kedua pipiku. Darah
segar mengalir dari tubuh orang yang benar-benar kusayang. Oppa, kakak
laki-laki satu-satunya yang kumiliki bergeletak pada badan aspal jalan.
Tubuhnya penuh dengan darah. Aku berteriak, “Ini semua salahku, ini semua
salahku.”
Andai
Aku bisa mengendalikan waktu, mengapa tidak Aku saja yang pergi?
“Aku
mencintaimu, saranghaeyo shin hyejeong-ah”
Aku
melepaskan pelukannya, “itu tentu, karna kita kakak beradik. Tidak mungkin Oppa
membenciku.”
Oppa
mengeluarkan sesuatu dari saku mantelnya, sebuah kotak kecil berwarna merah
muda yang dihiasi ikatan pita emas. “Maksudku lebih dari itu, Aku ingin Kau
menjadi Yeojachinguku.”
“Mwo?
Tapi Kau adalah kakakku?”
Ia
membuka kotak merah muda tersebut, diambilnya cincin berkilau yang ada dalam
kotak kecil itu. “Aku tahu, Kau mencintaiku.”
“Aku
memang mencintaimu Oppa, tapi sebagai kakak kandungku.”
“Apa
Kau pikir kita sedarah?”
“Oppa,
Kau tidak pernah bicara sekasar itu denganku.”
“Karena
Aku bukan kakakmu!”
PLAK,
Aku mendaratkan tamparan pada wajahnya. “Dengar ya. sampai Aku mati Kau adalah
Oppaku. Kau tetap kakakku.”
Aku
berlari secepat mungkin, berusaha meninggalkan Oppa. “Shin Hyejeong!” kudengar
teriakkannya, Aku mencoba untuk meliriknya. Kulihat Ia mengejarku. “Shin
Hyejeong, tunggu.” Kudengar kembali teriakannya. Sampai sesuatu yang aneh
terdengar ditelingaku.
Tak
kudengar lagi Oppa berteriak memanggilku. Yang kudengar hanyalah suara hantaman
keras yang membuatku tersentak. Aku menghentikan langkah kakiku dan mencoba
melihat apa yang terjadi dibelakangku. “Oppa?” Aku berlari, Ia tidak sadarkan
diri. Darah segar mengalir deras dari tubuhnya. Sebuah bis menghantamnya. “Oppa
jangan pergi.”
12 Tahun Yang Lalu
Usiaku
masih tujuh tahun. Saat itu Aku benar-benar polos. Aku memiliki kakak kandung,
namanya Shin Yo Seok. Ia tua dariku empat tahun. Aku sangat menyayanginya, Ia
adalah kakak terbaik yang kupunya. Waktu nilai tugasku jelek, Oppa mengajariku
hingga Aku tersenyum kembali. Waktu Aku terjatuh dari sepeda, Oppa yang
membalut lukaku. Dia menghiburku, “Ujima, Hyejeong jika menangis seperti
badut”.
Yo Seok Oppa mengenalkanku pada
tetangga baru kami. Usianya berbeda tiga tahun lebih tua dariku. Ia juga baik
seperti Oppa. Aku memanggilnya ‘Gilin’ karena Ia tinggi seperti jerapah,
tingginya sangat jauh berbeda dariku. Ia juga memiliki nama yang sama seperti
Oppa kandungku. Ia bernama Kim Yo Seok, hanya marga yang membedakan nama
mereka. Kami selalu bersama.
Suatu hari orang tua Kim Yo Seok
Oppa meninggal karena kecelakaan. Appa dan Eomma mengijinkannya untuk tinggal
dirumah kami. Karena Yo Seok Oppa yatim piatu. Ia tidak memiliki saudara lagi
disini. Appa dan Eomma menyekolahkannya di tempat dimana Aku dan Oppa
bersekolah. Ia adalah anak yang pintar, selalu mendapatkan peringkat satu.
Tidak sepertiku.
Tidak
lama setelah itu. Oppaku Shin Yo Seok meninggalkan kami. Oppa meninggal karena
penyakit Asma. Waktu itu Aku benar-benar tidak tahu apa-apa, “Oppa, ayo bangun.
Oppa janji ingin main denganku kan?”. Eomma bilang Oppa tidak akan bangun lagi,
Ia ingin pergi ketempat yang sangat jauh.
Semenjak
itu, Aku selalu menganggap Gilin Oppa sebagai kakak kandungku keduaku. Aku
kembali menemukan sosok orang yang sangat menghiburku. “Uljima, kata Oppamu.
Aku akan menjagamu selalu.”
***
Aku
menanamkan pohon maple kecil pada tanah pemakaman Oppa. Disebelahnya terdapat
pohon maple besar yang sudah tertanam dua belas tahun lampau. Kami memakamkan
Oppa tepat disamping makam kakak kandungku.
Aku
melipat keduatelapak tanganku dan menutup kedua mataku. “Oppa, maafkan Aku.”
Aku
melangkahkan kakiku pada pohon maple besar yang ada disamping makam Yo seok
Oppa. “Oppa, sudah lama kita tak bermain bersama. Tapi Aku Tahu, Oppa selalu
ada disampingku. Aku tidak akan melupakan kalian. Kalau Aku menikah, kalian
harus datang. Ne?” Aku kembali melipat kedua telapak tanganku.
Inilah
kenyataan. Kenyataan yang harus kuhadapi. Kenyataan yang tak pernah bisa
kuhindari, Aku tahu kalian mengawasiku diatas sana.
***
“Hyejeong-ssi.
Apa yang membuatmu ingin menuangkan kisahnyatamu dalam novelmu kali ini?
Novelmu langsung terjual habis dalam ribuan copy saat baru pertama kali di
release.” Tanya seorang wartawan sambil melambaikan tangannya.
“Ya,
Kisah itu benar-benar terjadi padaku lima tahun yang lalu. Kakak angkatku
meninggal saat Aku berusia Sembilan belas tahun. Sementara kakak kandungku
meninggal tujuh belas tahun yang lalu. Aku selalu merapikan makam mereka setiap
hari. Mereka adalah penyemangat dan inspirasiku.” Kataku sambil tersenyum.
Aku akan menemukan kalian, walau
harus seribu tahun kulalui…
END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar